Di Balik Palu Sidang, Ada Nasyid Irwansyah

DIALEKSIS.COM | Feature - Orang lebih mudah mengenal Irwansyah, S.T. dari ruang sidang. Setelan resmi, tumpukan berkas, mikrofon, pembahasan anggaran, hingga palu yang diketuk dalam rapat paripurna.

Maklum, Irwansyah kini duduk sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Kota (DPRK) Banda Aceh periode 2024 - 2029. Ia resmi mengucapkan sumpah sebagai Ketua DPRK pada 14 Oktober 2024.

Tetapi ada sisi lain lelaki yang akrab dengan dunia politik itu yang tak banyak diketahui publik.

Ketika mikrofon yang berada di tangannya bukan untuk memimpin sidang, Irwansyah ternyata cukup piawai menggunakannya untuk bernyanyi.

Bukan lagu pop. Bukan pula tembang yang biasa memenuhi panggung hiburan.

Lagu-lagu religi itulah yang kerap menjadi pilihannya.

Pada pesta pernikahan, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, acara keagamaan hingga pertemuan keluarga, Irwansyah beberapa kali diminta menyumbangkan suara. Bila suasana memungkinkan, permintaan itu tak jarang dipenuhinya.

Maka sosok yang beberapa jam sebelumnya mungkin berbicara tentang anggaran kota, pembangunan jalan atau pelayanan publik bisa berubah ketika berdiri di depan sebuah mikrofon.

Ia bernyanyi. Tidak membawa atribut politik. Tidak sedang berpidato.

Dari Walimatus Safar

Tgk. H. Makhyaruddin Yusuf termasuk orang yang pernah melihat langsung sisi lain Irwansyah tersebut.

Makhyaruddin akrab disapa Ustaz Makhyar merupakan Ketua DPW PKS Aceh periode 2020 - 2025. Ia terpilih memimpin PKS Aceh dalam Musyawarah Wilayah pada Desember 2020 dan sebelumnya pernah menjadi anggota DPR Aceh.

Salah satu momen yang membekas adalah ketika Irwansyah hadir dalam sebuah walimatus safar haji.

Walimatus safar merupakan tradisi tasyakuran sekaligus berpamitan sebelum seseorang berangkat menunaikan ibadah haji. Biasanya terdapat doa bersama, tausiah dan silaturahmi keluarga maupun kerabat.

Di tengah suasana itu, Irwansyah diminta menyumbangkan sebuah lagu religi. Ia maju.

Makhyaruddin menyaksikan sendiri bagaimana Ketua DPRK Banda Aceh tersebut mengambil mikrofon dan membawakan nasyid di hadapan para tamu. Menurut penuturannya, Irwansyah memang memiliki kedekatan dengan lagu-lagu religi dan tidak canggung ketika diminta bernyanyi dalam kegiatan keagamaan.

Bagi Makhyaruddin, sisi tersebut menarik karena publik selama ini lebih sering melihat Irwansyah melalui aktivitas politik dan tugasnya sebagai legislator. Padahal, di lingkungan pertemanan dan kegiatan keagamaan, ada sisi lain yang lebih cair ketika Irwansyah yang menikmati nasyid.

Cerita serupa datang dari Nisfun Nahar, atau akrab disapa Anis, seorang vokalis dan penyanyi religi Aceh.

Nisfun menilai Irwansyah memiliki suara yang merdu ketika membawakan lagu bernuansa religi. Penilaian seorang penyanyi religi tentu memberi warna tersendiri terhadap kegemaran Irwansyah tersebut.

Apalagi Irwansyah bukan penyanyi profesional. Panggung kesehariannya adalah parlemen.

Namun ketika bernasyid, kata Anis, sisi lain Irwansyah muncul: seseorang yang menikmati lantunan religi dan mampu membawakannya dengan suara yang enak didengar.

Pertemuan Irwansyah dengan para pegiat nasyid juga bukan cerita sesaat. Pada Mei 2026, rumah dinas Ketua DPRK Banda Aceh menjadi tempat pertemuan pengurus Asosiasi Nasyid Nusantara Aceh bersama sejumlah grup nasyid.

Nama Nisfun Nahar juga tercatat hadir dalam pertemuan tersebut bersama sejumlah kelompok seperti Kautsar, Skala, Lamda, Dzikrayat, Salju, Fizi Voice dan pegiat seni religi lainnya. Pertemuan itu membicarakan pengembangan nasyid sebagai media dakwah sekaligus bagian dari seni Islami Banda Aceh.

Di titik inilah kegemaran Irwansyah terhadap nasyid rupanya tak berhenti sebagai kesenangan pribadi. Ia bergerak lebih jauh.



Dari Hobi ke Panggung Nasyid Aceh

Sabtu malam, 26 September 2026, Taman Budaya Aceh di Banda Aceh menjadi panggung bagi sesuatu yang belakangan ingin kembali dihidupkan: musik nasyid.

Festival Parade Nasyid Aceh 2026 mempertemukan generasi baru dengan para pegiat nasyid lintas generasi. Ada kompetisi nasyid acapella, penampilan musisi senior, serta ruang perjumpaan bagi mereka yang ingin seni suara Islami kembali mendapat tempat di tengah perkembangan musik modern.

Pada acara itulah sisi lain Irwansyah semakin terlihat terang. Ia hadir bukan hanya sebagai Ketua DPRK Banda Aceh. Namanya tercatat sebagai Pembina Nasyid Nusantara Aceh.

Bagi Irwansyah, Parade Nasyid Aceh bukan sekadar perlombaan mencari siapa yang paling bagus bernyanyi. Ada misi yang lebih panjang: mengenalkan kembali nasyid kepada generasi muda, terutama Generasi Z.

“Ini adalah momentum yang tepat bagi anak-anak muda kita untuk menjadikan nasyid sebagai referensi musik islami yang menyejukkan sekaligus sarat akan pesan moral,” ujar Irwansyah.

Pernyataan itu seakan menjelaskan mengapa seorang Ketua DPRK ikut memberi perhatian pada sebuah festival nasyid.

Di tengah arus musik digital yang menawarkan hampir semua genre kepada anak muda hanya melalui layar telepon genggam, Irwansyah melihat nasyid masih memiliki ruang.

Bukan untuk berkompetisi dengan seluruh jenis musik. Melainkan menawarkan pilihan.

Musik yang menghibur, tetapi sekaligus membawa pesan keagamaan, pendidikan moral dan nilai-nilai kebaikan.

Festival malam itu menghadirkan 10 grup nasyid acapella terpilih dari berbagai daerah di Aceh. Mereka memperebutkan total hadiah Rp10 juta serta Piala Bergilir Ketua DPRK Banda Aceh.

Antusiasme tersebut ikut membuat Irwansyah berbicara tentang kelanjutan acara.

“Ke depan, jika antusiasme dan persaingan semakin tinggi, kemungkinan besar hadiahnya akan kita tingkatkan di tahun depan,” katanya.

Panggung Parade Nasyid Aceh 2026 akhirnya memperlihatkan hubungan yang lebih utuh antara Irwansyah dengan seni religi.

Ia ternyata bukan hanya politisi yang sesekali bernyanyi ketika diminta. Ada perhatian terhadap regenerasi. Ada keinginan membawa nasyid kembali mendekati anak muda. Dan ada usaha menyediakan panggung.

Beberapa bulan sebelum festival itu digelar, Irwansyah juga telah menyampaikan dukungan terhadap Asosiasi Nasyid Nusantara Aceh. Dalam pertemuan pada Mei 2026, ia mendorong kreativitas para pegiat nasyid agar seni tersebut tetap diminati generasi muda. Bahkan muncul gagasan menghadirkan grup nasyid dari Malaysia untuk memberi motivasi kepada pegiat nasyid Aceh.

Artinya, Parade Nasyid Aceh bukan sepenuhnya kegiatan yang muncul tiba-tiba. Ada proses sebelumnya.

Dua Mikrofon

Irwansyah memang lebih dikenal sebagai politisi PKS dan pimpinan lembaga legislatif Kota Banda Aceh.

Sebagai Ketua DPRK, kesehariannya bersinggungan dengan rapat, legislasi, anggaran dan fungsi pengawasan terhadap pemerintah kota. Dalam banyak kesempatan publik, ia juga berbicara tentang pembangunan, pelayanan masyarakat hingga persoalan generasi muda.

Tetapi manusia selalu memiliki sisi yang tak seluruhnya dapat dibaca dari jabatan. Begitu pula Irwansyah.

Satu mikrofon membawanya ke ruang sidang, berbicara tentang kebijakan dan kepentingan masyarakat.

Mikrofon lainnya membawanya ke panggung yang lebih sederhana: pesta perkawinan, Maulid Nabi, walimatus safar, pertemuan sahabat atau panggung nasyid.

Yang satu menuntut argumentasi. Yang lain membutuhkan nada.

Mungkin itu pula yang membuat cerita tentang Irwansyah dan nasyid terasa berbeda. Di tengah citra politik yang identik dengan pidato, perdebatan dan perebutan gagasan, terselip kesenangan sederhana yang jarang diketahui orang.

Bernyanyi. Dan lagu pilihannya kebanyakan adalah lagu religi.

Kini kegemaran itu bahkan bergerak melewati batas hobi pribadi. Melalui Nasyid Nusantara Aceh dan Parade Nasyid Aceh 2026, ia ikut mendorong agar generasi baru kembali mengenal satu genre musik yang pernah tumbuh kuat dalam kehidupan anak muda Aceh.

Karena itu, bila suatu ketika Irwansyah datang ke sebuah pesta pernikahan, Maulid atau walimatus safar, jangan hanya melihatnya sebagai Ketua DPRK Banda Aceh.

Boleh jadi seseorang akan menyodorkan mikrofon kepadanya. Dan bukannya berpidato politik Dan ketika kesempatan itu datang, Irwansyah justru mulai bernasyid. [*]

Share berita ini

dialeksis.com