Sekda Aceh: Ekonomi Mulai Menguat, Momentum Pemulihan Harus Dijaga

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Aceh menyambut positif perkembangan perekonomian daerah yang menunjukkan penguatan pada pertengahan 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, ekonomi Aceh pada Triwulan II 2026 tumbuh 4,86 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Secara triwulanan, ekonomi tumbuh 3,77 persen dibandingkan Triwulan I 2026, sedangkan secara kumulatif Semester I 2026 tumbuh 4,48 persen.

Sekretaris Daerah Aceh, M. Nasir Syamaun, mengatakan capaian tersebut merupakan sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak lebih baik.

“Alhamdulillah, berdasarkan data BPS, kita melihat perkembangan yang cukup menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi Aceh pada Triwulan II menunjukkan akselerasi. Ini tentu menjadi sinyal positif bahwa aktivitas ekonomi masyarakat mulai bergerak lebih baik,” ujar Nasir.

Menurutnya, capaian tersebut harus dipandang sebagai momentum yang perlu dijaga dan diperkuat. Pemerintah Aceh, kata dia, terus mendorong agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tercermin dalam angka makro, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Penguatan ekonomi juga terlihat dari kinerja perdagangan. Data BPS untuk Juni 2026 mencatat nilai ekspor Aceh mencapai US$85,31 juta, meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026. Peningkatan tersebut antara lain ditopang batu bara, CPO, dan kopi.

Pada saat yang sama, nilai impor Aceh turun 75,15 persen secara bulanan, sehingga Aceh mencatat surplus neraca perdagangan sekitar US$59 juta.

“Peningkatan ekspor dan surplus perdagangan ini tentu kita sambut baik. Ke depan, yang perlu kita dorong adalah bagaimana memperkuat daya saing produk Aceh, memperluas pasar, serta meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi dan industri pengolahan,” kata Nasir.

Aktivitas mobilitas masyarakat juga menunjukkan perkembangan positif. BPS mencatat jumlah penumpang domestik melalui Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda pada Juni 2026 mencapai 22.502 orang, meningkat 31,03 persen dibandingkan Mei. Penumpang angkutan laut mencapai 116.406 orang, naik 32,58 persen secara bulanan dan 16,82 persen secara tahunan.

Menurut Nasir, meningkatnya mobilitas tersebut menjadi salah satu indikator bergeraknya kembali aktivitas ekonomi domestik, terutama perdagangan, jasa, transportasi, perhotelan, dan pariwisata.

“Mobilitas masyarakat yang meningkat tentu memberikan efek berantai terhadap sektor ekonomi lainnya. Karena itu, konektivitas antardaerah dan kelancaran arus barang dan orang akan terus menjadi perhatian pemerintah,” ujarnya.

Di sektor pariwisata, BPS mencatat 2.553 kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Juni 2026. Sementara itu, tingkat penghunian kamar hotel berbintang meningkat menjadi 29,38 persen, naik 2,35 poin persentase dibandingkan bulan sebelumnya.

Nasir mengatakan Pemerintah Aceh akan terus memperkuat sektor-sektor produktif, terutama pertanian, perkebunan, kelautan dan perikanan, industri pengolahan, UMKM, pariwisata, ekonomi kreatif, dan perdagangan.

“Pertumbuhan ekonomi harus bermuara pada kesejahteraan. Kita ingin lapangan kerja bertambah, daya beli masyarakat menguat, dunia usaha berkembang, dan semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat pembangunan,” katanya.

Ia menambahkan, Pemerintah Aceh akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah pusat, kabupaten/kota, dunia usaha, perbankan, perguruan tinggi, dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjaga momentum tersebut.

“Kita melihat tanda-tanda yang baik. Ini harus kita syukuri sekaligus kita jaga. Dengan kerja bersama, kita optimistis ekonomi Aceh akan terus tumbuh semakin kokoh, inklusif, dan memberikan kesejahteraan yang lebih luas bagi masyarakat,” pungkas Nasir.

Share berita ini

dialeksis.com