Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,29 Persen, Industri Nonmigas Tembus 5,32 Persen

DIALEKSIS.COM | Jakarta - Kinerja industri pengolahan nonmigas (IPNM) mencatat pertumbuhan positif pada triwulan II 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), IPNM tumbuh 5,32 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,29 persen.

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menilai capaian tersebut menunjukkan kebijakan industrialisasi nasional berada di jalur yang tepat.

Menurut Agus, pemerintah terus mendorong sektor industri sebagai salah satu mesin utama pertumbuhan ekonomi melalui Strategi Besar Industrialisasi Nasional (SBIN).

"Arahan Bapak Presiden Prabowo sangat jelas, yaitu menjadikan sektor industri sebagai tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Agus, Kamis (6/8/2026).

Agus mengatakan SBIN diarahkan untuk memperkuat struktur industri, mendorong hilirisasi, meningkatkan nilai tambah, dan menciptakan lapangan kerja.

Sementara itu, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi 18,50 persen terhadap PDB, sekaligus menjadi sektor dengan kontribusi terbesar. Manufaktur juga menjadi sumber pertumbuhan ekonomi terbesar dengan kontribusi mencapai 0,90 persen.

Sejumlah Subsektor Tumbuh Tinggi

Pertumbuhan IPNM pada triwulan II 2026 ditopang sejumlah subsektor strategis. Industri barang logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 8,04 persen.

Kemudian industri makanan dan minuman tumbuh 6,51 persen, sedangkan industri kimia, farmasi, dan obat tradisional tumbuh 4,99 persen. Kinerja industri juga tercermin dari sejumlah indikator. Indeks Kondisi dan Prospek Bisnis Industri Manufaktur (IKBM) berada di level 52,31, menandakan fase ekspansi.

Sementara PMI Manufaktur Indonesia pada Juli 2026 berada di level 50,2, dan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) mencapai 53,10. "Artinya, aktivitas produksi, investasi, maupun permintaan terhadap produk manufaktur masih terus bergerak positif," kata Agus.

Menperin Soroti Impor Barang Konsumsi

Meski pertumbuhan industri menunjukkan tren positif, Agus menyoroti tingginya impor barang konsumsi yang tumbuh 27,15 persen yoy.

Menurutnya, kenaikan tersebut menunjukkan konsumsi masyarakat masih kuat. Namun, kondisi itu sekaligus menjadi sinyal bahwa kapasitas industri dalam negeri untuk menyediakan bahan baku dan komponen tertentu masih perlu diperkuat.

Pemerintah, kata Agus, perlu memperkuat kebijakan yang berpihak pada industri nasional, khususnya industri penyedia bahan baku.

Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor dan memperdalam struktur industri nasional. Di sisi lain, net ekspor masih memberikan andil negatif 0,78 persen terhadap pertumbuhan ekonomi pada triwulan II 2026.

Karena itu, pemerintah akan terus mendorong produktivitas, hilirisasi, diversifikasi produk bernilai tambah, serta memperluas pasar ekspor.

Industri Serap 13,53 Persen Tenaga Kerja

Sektor industri pengolahan juga masih menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Berdasarkan data Mei 2026, sektor ini menyerap 13,53 persen dari total tenaga kerja nasional. Jumlah penduduk bekerja saat itu mencapai 148,19 juta orang.

Agus menegaskan pemerintah akan mempercepat implementasi SBIN agar industri nasional semakin kuat, mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik, sekaligus meningkatkan kinerja ekspor.

"Selain menghasilkan nilai tambah dan meningkatkan daya saing nasional, sektor ini juga memberikan kesempatan kerja bagi jutaan masyarakat Indonesia," tegas Agus. [red]

Share berita ini

dialeksis.com