Antam Borong 9 Ton Emas Freeport, Ini Deretan Pemasoknya

DIALEKSIS.COM | Jakarta - PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau Antam memperkuat pasokan emas dalam negeri dengan memborong sekitar 9 ton emas dari PT Freeport Indonesia (PTFI) sepanjang Januari hingga Agustus 2026.

Emas tersebut merupakan hasil produksi fasilitas Precious Metals Refinery (PMR) milik Freeport Indonesia di Gresik, Jawa Timur. Langkah itu menjadi bagian dari strategi Antam memperbesar pemanfaatan sumber emas domestik sekaligus memperkuat rantai pasok industri emas nasional.

Direktur Utama Antam Untung Budiharto mengatakan realisasi pembelian tersebut menunjukkan upaya perseroan meningkatkan penggunaan emas yang dihasilkan di dalam negeri.

Menurutnya, kerja sama antara perusahaan pertambangan nasional penting agar sumber daya mineral Indonesia memberikan nilai tambah lebih besar di dalam negeri, sekaligus mendukung pemenuhan kebutuhan emas masyarakat yang terus berkembang.

Antam dan Freeport sebelumnya telah memiliki perjanjian jual beli emas hingga 30 ton per tahun dengan tingkat kemurnian mencapai 99,99 persen.

Kerja sama pembelian 30 ton emas per tahun itu telah dirintis sejak 2024. Dalam keterangan resminya ketika kerja sama ditandatangani, Antam menyebut pasokan emas dari Freeport diarahkan untuk memperkuat sumber bahan baku domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap impor.

Namun, Freeport bukan satu-satunya sumber pasokan emas Antam.

Perseroan juga membangun kerja sama dengan sejumlah perusahaan tambang emas yang beroperasi di Indonesia, antara lain PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), Merdeka Group, PT Citra Palu Minerals (CPM), PT Agincourt Resources, PT Sumbawa Jutaraya (SJR), PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), serta PT Indo Muro Kencana (IMK).

Penguatan jaringan pemasok menjadi penting bagi Antam karena bisnis emas masih menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan.

Sepanjang semester I 2026, Antam membukukan volume penjualan emas mencapai 18.080 kilogram atau 18,08 ton, dengan nilai penjualan sekitar Rp50,39 triliun. Angka tersebut tumbuh sekitar 1 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp49,68 triliun.

Penjualan emas bahkan menyumbang sekitar 80 persen dari total penjualan bersih Antam pada semester pertama 2026 yang mencapai Rp62,71 triliun.

Pada periode yang sama, produksi emas dari tambang milik Antam sendiri tercatat hanya sekitar 433 kilogram. Kondisi tersebut membuat keberadaan pemasok emas domestik menjadi bagian penting dalam menopang volume penjualan perusahaan.

Untung menegaskan Antam ingin peningkatan kebutuhan emas nasional semakin banyak ditopang oleh rantai pasok domestik. Dengan demikian, aktivitas penambangan, pemurnian hingga perdagangan emas diharapkan menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar di Indonesia.

Penguatan sumber emas dalam negeri juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang Antam. Dalam kerja sama awal dengan Freeport, perusahaan menyebut emas hasil pemurnian di Gresik akan kembali diproses menjadi produk logam mulia Antam untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.

Share berita ini

dialeksis.com