DIALEKSIS.COM | AS - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengungkapkan negosiasi terkait Selat Hormuz yang dimediasi Oman menunjukkan kemajuan, meski belum mencapai kesepakatan final. Washington berharap salah satu hambatan utama dalam upaya meredakan ketegangan dengan Iran dapat segera diselesaikan.
Rubio mengatakan AS ikut terlibat dalam pembahasan tersebut. Sementara itu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut kesepakatan berpotensi tercapai dalam waktu dekat. Dari pihak Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmaeil Baghaei menyatakan pembicaraan berlangsung positif dan masih berlanjut.
Menurut Baghaei, fokus utama negosiasi adalah menyusun mekanisme pelayaran yang aman bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz. Namun, sejumlah isu teknis masih dibahas, termasuk mekanisme pembukaan jalur pelayaran, biaya layanan maritim, serta pengaturan keamanan.
Selat Hormuz menjadi salah satu isu paling krusial dalam hubungan AS-Iran setelah berbulan-bulan ketegangan di kawasan. Washington menginginkan jalur pelayaran tetap aman sebagai langkah awal sebelum pembahasan berlanjut ke isu yang lebih luas, termasuk program nuklir Iran.
Di sisi lain, aktivitas diplomatik di Timur Tengah juga meningkat. Emir Qatar Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani melakukan pembicaraan dengan Presiden AS Donald Trump terkait upaya meredakan ketegangan, sementara Pakistan juga berupaya memfasilitasi dialog dengan mengundang Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi.
Meski demikian, situasi keamanan kawasan masih memanas. Sebuah kapal kargo India dilaporkan tenggelam setelah terkena proyektil di dekat perairan Yaman, sementara kelompok Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan drone yang mengganggu operasional Bandara Najran di Arab Saudi.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa meski peluang kesepakatan terkait Selat Hormuz semakin terbuka, konflik keamanan di Timur Tengah masih menjadi tantangan besar bagi upaya diplomasi yang lebih luas. [Aljazeera, AFP, Reuters]
Share berita ini