DIALEKSIS.COM | Dunia - Konflik Arab Saudi dengan kelompok Houthi Yaman merambah Riyadh. Koalisi pimpinan Saudi menyatakan rudal balistik yang mengarah ke ibu kota kerajaan pada Sabtu (19/9/2026) berhasil dicegat, di tengah meningkatnya pertempuran di kawasan.
Mengutip SINDOnews, Minggu (20/9/2026), warga mendengar ledakan dan melihat asap di dekat Bandara Internasional King Khalid. Sejumlah penerbangan dilaporkan terlambat atau dibatalkan. Hingga laporan itu diterbitkan, belum ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat insiden tersebut.
Koalisi juga mengklaim menggagalkan serangan terhadap infrastruktur sipil di Yanbu, Taif, Baysh, dan Farasan. Sementara itu, juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengklaim kelompoknya menyerang sasaran strategis di Riyadh serta fasilitas Aramco di Yanbu menggunakan rudal dan drone.
Houthi menyebut serangan itu memicu kebakaran besar, sedangkan koalisi menyatakan seluruh upaya serangan berhasil digagalkan. Aramco belum memberikan tanggapan dalam laporan tersebut.
Pertempuran turut memperburuk keadaan warga Yaman. SINDOnews mengutip laporan Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Jumat yang menyebut lebih dari 104.796 orang mengungsi akibat pertempuran terbaru.
Di tengah eskalasi tersebut, dukungan Amerika Serikat menjadi sorotan. Dalam laporan terpisah yang mengutip CNN, SINDOnews menyebut pemerintahan Donald Trump belum bersedia melancarkan serangan langsung terhadap Houthi. Dukungan Washington sejauh ini berupa intelijen dan data penentuan sasaran bagi Saudi.
Menurut sumber-sumber yang dikutip CNN, Putra Mahkota Mohammed bin Salman telah dua kali berbicara dengan Trump pada pekan sebelumnya untuk meminta serangan AS terhadap Houthi. Permintaan itu disebut belum mendapat persetujuan.
Sikap tersebut memunculkan kegelisahan di kawasan Teluk, terutama setelah Houthi merebut wilayah pesisir dan memperkuat posisinya di Laut Merah. Pergerakan menuju Selat Bab al-Mandab meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran serta jalur pasokan energi.
Mantan diplomat AS, Barbara Leaf, menilai pendekatan Washington menimbulkan pertanyaan mengenai komitmennya terhadap mitra dekat. Ia juga menyoroti peningkatan kemampuan tempur Houthi melalui hubungan dan dukungan Iran.
Ketegangan turut menghambat diplomasi. Laporan tersebut menyebut pertemuan negara-negara Teluk dengan Iran dibatalkan setelah Saudi memutuskan tidak hadir, di tengah kekhawatiran mengenai rancangan kesepakatan pembukaan Selat Hormuz.
Bagi Riyadh, ancaman Houthi dan keamanan jalur energi kini saling berkaitan. Sumber kawasan yang dikutip CNN meragukan operasi militer saja dapat menyelesaikan konflik: serangan mungkin melemahkan Houthi, tetapi belum tentu mengakhiri kekuatan kelompok tersebut.
Share berita ini