DIALEKSIS.COM | Jerman - Pemungutan suara berlangsung di Saxony-Anhalt, Jerman timur, Minggu (6/9/2026). Pemilu ini menjadi sorotan karena partai sayap kanan Alternative for Germany (AfD) berpeluang mencetak sejarah dengan menjadi partai sejenis pertama yang memimpin pemerintahan negara bagian Jerman sejak Perang Dunia II.
Survei terbaru menempatkan AfD di posisi teratas dengan elektabilitas sekitar 40 persen, jauh mengungguli Christian Democratic Union (CDU) yang berada di kisaran 23 persen.
AfD bahkan berpeluang meraih mayoritas mutlak apabila sejumlah partai kecil gagal melewati ambang batas 5 persen untuk mendapatkan kursi di parlemen negara bagian.
Jika AfD gagal mencapai mayoritas, pemerintahan yang dipimpin CDU dengan Sven Schulze sebagai perdana menteri negara bagian menjadi salah satu skenario yang paling mungkin. Negosiasi pembentukan koalisi diperkirakan berlangsung selama berminggu-minggu setelah hasil pemilu diketahui.
Kandidat AfD, Ulrich Siegmund, optimistis partainya mampu meraih kemenangan. Ia bahkan melihat kemenangan di Saxony-Anhalt sebagai batu loncatan menuju target lebih besar, yakni menguasai pemerintahan federal Jerman pada pemilu 2029.
"Jika tidak ada yang mau bekerja sama dengan kami, maka kami harus melakukannya sendiri," ujar Siegmund kepada Bild.
Peluang AfD tersebut menjadi tantangan besar bagi CDU yang dipimpin Kanselir Friedrich Merz. Merz sebelumnya menyerukan agar partai-partai lain menghadapi AfD dengan lebih efektif, termasuk dengan membahas persoalan yang menjadi perhatian masyarakat.
Pemilu ini juga diwarnai aksi pro-demokrasi. Ribuan orang turun ke jalan pada malam sebelum pemungutan suara. Penyelenggara memperkirakan sekitar 15.000 hingga 20.000 orang menghadiri aksi tersebut.
Hasil awal pemilu diperkirakan mulai terlihat sekitar pukul 18.00 waktu setempat, Minggu (6/9/2026). [Aljazeera, DPA, Reuters]
Share berita ini