Kapal Kargo Diserang di Laut Merah, Inggris Keluarkan Peringatan Maritim

DIALEKSIS.COM | Yaman - Sebuah kapal kargo dilaporkan mengalami serangan di perairan Laut Merah, tepatnya sekitar 30 mil laut atau sekitar 56 kilometer di barat daya Kota Al Hudaydah, Yaman, Minggu (5/7/2026). Insiden tersebut terjadi di tengah situasi keamanan kawasan yang masih rapuh setelah gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Pusat Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UK Maritime Trade Operations/UKMTO) mengonfirmasi telah menerima laporan darurat dari kapal tersebut.

"Dalam laporan awal, sebuah kapal kargo mengaktifkan sinyal bahaya dan menyatakan bahwa mereka diserang oleh pihak yang tidak dikenal," tulis UKMTO melalui akun resminya di X.

Otoritas Inggris menyatakan penyelidikan sedang berlangsung dan mengimbau seluruh kapal yang melintas di kawasan tersebut agar meningkatkan kewaspadaan selama berlayar.

Hingga kini belum ada pihak yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut. Namun, kawasan Laut Merah dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu titik rawan bagi pelayaran internasional.

Kelompok Houthi yang didukung Iran sebelumnya beberapa kali melancarkan serangan terhadap kapal-kapal dagang yang melintasi Laut Merah sepanjang 2023 hingga 2025 sebagai bentuk dukungan terhadap Palestina di tengah perang Israel di Gaza. Meski demikian, kelompok tersebut sebagian besar tidak terlibat langsung dalam konflik bersenjata antara AS dan Iran.

Insiden terbaru ini kembali menyoroti pentingnya Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden dan Laut Arab. Bersama Selat Hormuz, kawasan ini merupakan salah satu rute utama perdagangan energi dunia.

Peran Bab el-Mandeb semakin krusial ketika pengiriman melalui Selat Hormuz sempat terganggu akibat meningkatnya konflik antara Iran dengan AS dan Israel. Saat itu, Arab Saudi mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya melalui Pipa Timur-Barat menuju Laut Merah sebelum diteruskan melewati Bab el-Mandeb ke pasar Asia.

Setelah AS dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni yang membuka jalan bagi penghentian konflik serta pembukaan kembali Selat Hormuz, arus ekspor minyak mulai pulih.

Berdasarkan data perusahaan intelijen perdagangan Kpler, Arab Saudi telah mengekspor sekitar 34 juta barel minyak melalui Selat Hormuz sejak 17 Juni. Volume tersebut lebih dari dua kali lipat dibandingkan sekitar 15 juta barel yang dikirim selama periode 9 Maret hingga 17 Juni, ketika ketegangan di kawasan masih tinggi.

Seiring membaiknya arus pengiriman energi global, harga minyak mentah Brent juga terkoreksi tajam. Dari level tertingginya pada Maret lalu, harga Brent telah turun sekitar 39%. [cnbc]

Share berita ini

dialeksis.com