DIALEKSIS.COM | AS - Fenomena iklim El Nino diperkirakan terus menguat dan berlangsung hingga Februari 2027. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan kondisi ini dapat meningkatkan risiko cuaca ekstrem, mulai dari banjir, kekeringan hingga suhu panas ekstrem di berbagai negara.
Sekretaris Jenderal Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), Celeste Saulo, mengatakan El Nino berpotensi memberikan dampak besar terhadap masyarakat dan perekonomian global.
"Kita sudah melihat gangguan dan kerusakan akibat kekeringan serta banjir, dan kami memperkirakan dampak-dampak ini akan meningkat seiring menguatnya El Nino," ujar Saulo.
Dampak langsung diperkirakan paling terasa di kawasan Asia-Pasifik dan Amerika Latin. Namun, efeknya juga dapat dirasakan secara global melalui gangguan terhadap produksi berbagai komoditas, seperti jagung, kakao, dan kopi.
Sejumlah negara Amerika Tengah, termasuk Guatemala, Honduras, dan El Salvador, telah menghadapi kekeringan yang memicu gagal panen. India juga menghadapi kebakaran hutan, sementara musim monsun yang lebih lemah berpotensi mengganggu produksi padi, tebu, kapas, dan kedelai.
Di Peru, sektor perikanan turut terdampak. Penangkapan ikan teri yang banyak digunakan sebagai bahan pakan ternak dilaporkan mengalami penurunan signifikan.
Sektor energi juga menghadapi risiko akibat perubahan cuaca ekstrem. Kondisi tersebut dapat mengganggu pembangkit listrik tenaga air, angin, dan surya, serta aktivitas produksi minyak, gas, dan pertambangan.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut El Nino kini berkembang menjadi fenomena "raksasa" dan memperingatkan dunia berada dalam zona bahaya cuaca ekstrem.
El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di wilayah tropis Pasifik timur berada setidaknya 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. WMO mencatat suhu permukaan laut di kawasan tersebut telah lebih dari 2 derajat Celsius di atas normal pada Juli.
El Nino merupakan pola iklim alami yang bergantian dengan La Nina dan biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun. [cnbc]
Share berita ini