Banjir Nepal-Tibet Renggut 392 Nyawa, Ancaman Susulan Mengintai

DIALEKSIS.COM | Kathmandu - Bencana banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet terus menelan korban. Hingga Jumat (28/8/2026), sedikitnya 392 orang dilaporkan meninggal dunia dan hampir 1.500 lainnya masih hilang.

Sebanyak 389 korban jiwa tercatat di Nepal, sementara lebih dari 900 orang belum ditemukan. Di wilayah Tibet, China, tiga orang dilaporkan meninggal dan 558 lainnya hilang. Dengan demikian, jumlah korban hilang di kedua wilayah mencapai sedikitnya 1.468 orang.

Banjir bandang itu menerjang kawasan Himalaya pada Rabu (26/8/2026). Runtuhan gletser di dataran tinggi memicu aliran besar berisi air, es, batu, lumpur, dan material lainnya ke sistem sungai di bawahnya.

Arus deras bergerak melintasi lembah dan menyapu permukiman, jalan, jembatan, serta fasilitas penting di jalur yang menghubungkan Kathmandu dengan Lhasa. Sejumlah desa dilaporkan nyaris rata, sedangkan akses menuju kawasan terdampak terputus.

Di tengah operasi pencarian, ancaman baru kini membayangi. Otoritas Nepal memperingatkan terbentuknya danau akibat material longsor yang menyumbat aliran Sungai Bhotekoshi. Permukaan air danau tersebut terus meningkat dan berisiko menjebol bendungan alami.

Pemerintah China memperkirakan sekitar tiga juta meter kubik air tambahan akan mengalir ke danau yang telah terbendung itu dalam tiga hari ke depan. Curah hujan yang masih diperkirakan turun dapat meningkatkan risiko luapan atau jebolnya danau.

Peneliti Departemen Hidrologi Kementerian Sumber Daya Air China, Zhu Jinfeng, mengatakan peningkatan volume air berjalan seiring dengan membesarnya ancaman.

“Volume air terus bertambah, begitu pula risikonya,” kata Zhu kepada stasiun televisi pemerintah China, CCTV. Otoritas memperkirakan puncak aliran air dapat terjadi sekitar 1 September 2026.

Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal meminta masyarakat serta petugas penyelamat menjauh dari bantaran sungai. Sejumlah tim pencarian bahkan telah bergerak menuju dataran yang lebih tinggi untuk mengantisipasi datangnya banjir susulan.

Operasi penyelamatan menghadapi medan berat. Jalan dan jembatan terputus, jaringan listrik padam, serta komunikasi seluler tidak berfungsi di sejumlah lokasi. Sebagian wilayah hanya dapat dijangkau menggunakan helikopter.

Kepolisian Nepal melaporkan sedikitnya 466 orang telah diselamatkan. Lebih dari 13 ribu personel kepolisian, militer, dan kepolisian bersenjata dikerahkan ke kawasan bencana untuk mencari korban sekaligus menyalurkan bantuan.

Di wilayah Tibet, kawasan perbatasan Gyirong menjadi salah satu titik yang mengalami kerusakan paling parah. Kompleks perbatasan yang menampung kantor bea cukai dan imigrasi dilaporkan hancur diterjang lumpur. Dari 558 orang yang hilang di wilayah itu, sekitar 260 merupakan warga negara asing.

Banyak warga asing yang menjadi korban merupakan wisatawan dan peziarah yang sedang menuju Gunung Kailash dan Danau Mansarovar. Kawasan tersebut dianggap suci oleh umat Hindu, Buddha, dan sejumlah kelompok kepercayaan lainnya.

Laporan awal sempat menyebut gempa bumi sebagai pemicu runtuhnya gletser. Namun, Survei Geologi Amerika Serikat atau USGS menyatakan getaran yang semula tercatat sebagai gempa magnitudo 4,4 merupakan energi seismik dari runtuhan batuan dan es dalam skala besar.

Para ilmuwan belum menyimpulkan perubahan iklim sebagai penyebab langsung tunggal. Kendati demikian, kenaikan suhu dan pencairan es dinilai dapat memperlemah kestabilan batuan dan gletser di kawasan pegunungan tinggi.

Jumlah korban diperkirakan masih dapat bertambah karena banyak daerah belum dapat dijangkau. Di saat tim penyelamat berpacu mencari korban, ancaman jebolnya danau alami membuat Nepal dan China harus menghadapi kemungkinan datangnya bencana kedua.

Share berita ini

dialeksis.com