DIALEKSIS.COM | AS - Jaksa federal Amerika Serikat (AS) menangkap seorang pria California setelah dia diduga mengirim surat berisi ancaman pembunuhan kepada umat Muslim di sebuah masjid. Polisi kemudian menggeledah rumahnya dan menemukan sejumlah senjata api, termasuk senapan yang diduga merupakan ghost gun.
Pria bernama Louis White (60), warga Warner Springs, pada Kamis (3/9/2026) atas tuduhan mengirim komunikasi berisi ancaman. Surat tulisan tangannya dikirim ke Islamic Center of Temecula Valley dan diterima pihak masjid pada 26 Agustus. Surat tersebut diduga berisi kata-kata kasar dan bernada kebencian terhadap umat Muslim. White juga disebut menyertakan gambar sosok berjanggut yang diberi tanda bidik (crosshair).
Pihak masjid langsung melaporkan surat tersebut kepada aparat. Penyelidikan kemudian mengarah kepada White.
Saat menggeledah kediamannya pada Sabtu, aparat menemukan beberapa pucuk senjata api. Salah satunya diduga merupakan ghost gun, yakni senjata rakitan yang tidak memiliki nomor seri.
White selanjutnya ditangkap. Berdasarkan dokumen dakwaan, dia diduga mengakui kepada penyelidik bahwa dirinya mengirim surat ancaman tersebut ke masjid.
Dalam pemeriksaan, White juga diduga melontarkan sejumlah pernyataan diskriminatif terhadap umat Muslim. Dia disebut berbicara mengenai umat Muslim yang mengambil alih Amerika dan membunuh warga Amerika.
White kemudian diduga menanyakan kepada salah satu penyelidik mengenai tindakan yang akan dilakukan terkait pernyataannya. Dia juga disebut mengatakan bahwa dirinya tidak bisa melakukan apa-apa karena senjata-senjatanya telah disita.
White kini ditahan di Penjara Riverside County sambil menunggu pemindahan ke tahanan federal. Hingga kini, belum diketahui siapa kuasa hukum yang mendampinginya.
Penangkapan tersebut terjadi hampir tiga bulan setelah penembakan di sebuah pusat kegiatan Islam di San Diego yang menewaskan tiga orang. Dua remaja yang diduga terlibat dalam serangan itu kemudian ditemukan tewas di dalam sebuah kendaraan di dekat lokasi kejadian, menurut keterangan aparat. [abc news]
Share berita ini