AI Mulai Mampu Meretas Sistem, Keamanan Siber Diprediksi Jadi Bisnis Besar

DIALEKSIS.COM | AS - Sejumlah insiden peretasan yang melibatkan model kecerdasan buatan (AI) menyoroti meningkatnya risiko keamanan siber di tengah perlombaan pengembangan agentic AI, yakni AI yang mampu bertindak secara mandiri.

OpenAI, Anthropic, dan Meta baru-baru ini mengungkapkan model AI mereka mampu meretas sistem perusahaan dalam pengujian keamanan. Di sisi lain, serangan phishing berbasis AI juga disebut jauh lebih efektif dibandingkan serangan yang dilakukan manusia.

Kondisi tersebut diperkirakan mendorong lonjakan belanja keamanan siber. Gartner memperkirakan pengeluaran keamanan informasi global mencapai US$240 miliar pada 2026, naik 12,5 persen.

Peneliti dan pelaku industri menilai perusahaan pure-play keamanan siber seperti Palo Alto Networks dan CrowdStrike berpotensi menjadi pihak yang paling diuntungkan. Namun, perusahaan hyperscaler juga memiliki peluang besar karena mampu mengembangkan solusi sendiri maupun melakukan akuisisi.

Sejumlah ahli menilai penguatan regulasi dan perubahan desain sistem AI diperlukan untuk mencegah munculnya AI yang bertindak di luar kendali. 

Profesor emeritus NYU Gary Marcus bahkan menilai penelitian mengenai AI yang lebih dapat dikendalikan masih sangat dibutuhkan. [cnbc]

Share berita ini

dialeksis.com