DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 0,24 persen secara bulanan (month-to-month/m-to-m) pada Juli 2026.
Kenaikan harga sejumlah komoditas, terutama beras, bensin, dan semen, menjadi faktor utama yang mendorong inflasi di daerah tersebut.
Kepala BPS Provinsi Aceh, Agus Andria, mengatakan inflasi Juli 2026 ditandai dengan kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 115,59 pada Juni 2026 menjadi 115,87 pada Juli 2026. Sementara secara tahunan (year-on-year/y-on-y), inflasi Aceh tercatat sebesar 5,38 persen.
"Hasil pemantauan BPS di lima kabupaten/kota menunjukkan kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penyumbang terbesar inflasi, baik secara bulanan maupun tahunan," kata Agus Andria dalam rilis BPS Aceh.yang disiarkan di Youtube BPS Aceh disitat media dialeksis.com, Rabu, 5 Agustus 2026.
Menurutnya, kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi sebesar 0,20 persen secara bulanan dengan andil 0,07 persen terhadap inflasi. Secara tahunan, kelompok ini mencatat inflasi 6,49 persen dengan kontribusi mencapai 2,44 persen terhadap inflasi Aceh.
BPS mencatat komoditas yang paling dominan mendorong inflasi secara bulanan adalah beras, bensin, cabai rawit, tomat, dan semen. Sementara secara tahunan, inflasi terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga nasi dengan lauk, emas perhiasan, beras, cabai merah, dan bensin.
Secara wilayah, inflasi tahunan terjadi di seluruh daerah penghitungan inflasi di Aceh. Kabupaten Aceh Tengah menjadi daerah dengan inflasi tahunan tertinggi, yakni 6,91 persen, sedangkan Meulaboh menjadi yang terendah dengan inflasi 3,50 persen.
Untuk inflasi bulanan, Kota Banda Aceh justru mengalami deflasi sebesar 0,03 persen. Sebaliknya, wilayah lainnya masih mencatat inflasi, dengan Kabupaten Aceh Tamiang menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi sebesar 0,71 persen, sementara Meulaboh mencatat inflasi terendah sebesar 0,02 persen.
Selain perkembangan inflasi, BPS juga mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) Aceh pada Juli 2026 meningkat menjadi 127,30, atau naik 1,57 persen dibandingkan Juni 2026. Peningkatan tersebut didorong oleh naiknya harga gabah, kakao biji, dan kelapa sawit yang meningkatkan pendapatan petani.
Di sektor perdagangan, Aceh juga membukukan surplus neraca perdagangan sebesar US$59,27 juta pada Juni 2026. Nilai ekspor mencapai US$85,31 juta, meningkat 61,31 persen dibandingkan Mei 2026, dengan komoditas utama berupa batubara.
Sementara itu, sektor pariwisata menunjukkan tren berbeda. Jumlah kunjungan wisatawan mancanegara ke Aceh pada Juni 2026 tercatat 2.553 kunjungan, turun 18,90 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, tingkat penghunian kamar hotel berbintang meningkat menjadi 29,38 persen.
BPS juga mencatat mobilitas masyarakat terus meningkat. Jumlah penumpang penerbangan domestik melalui Bandara Sultan Iskandar Muda mencapai 22.502 orang, naik 31,03 persen dibandingkan Mei 2026. Adapun jumlah penumpang angkutan laut di Aceh mencapai 116.406 orang, meningkat 32,58 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Share berita ini