Kisah di Balik Foto Sjamsul Kahar yang Viral dalam Ucapan Duka

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Sebuah foto almarhum H. Sjamsul Kahar, Pemimpin Umum Harian Serambi Indonesia, menjadi salah satu potret yang paling banyak digunakan dalam berbagai ucapan belasungkawa setelah tokoh pers Aceh itu meninggal dunia pada Kamis, 24 September 2026, di RSUD dr. Zainoel Abidin (RSUDZA), Banda Aceh.

Potret tersebut beredar luas dalam ucapan duka dari berbagai kalangan, mulai institusi pemerintah, organisasi, tokoh secara personal, hingga perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Di balik foto yang kini menjadi bagian dari kenangan publik itu, tersimpan cerita tentang disiplin jurnalistik dan perhatian Sjamsul Kahar terhadap kekuatan sebuah foto.

Fotografer Harian Serambi Indonesia, Muhammad Anshar, mengungkapkan foto tersebut direkam sekitar 11 tahun lalu, tepatnya Jumat, 18 September 2015, ketika Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Aceh yang baru berkunjung untuk bersilaturahmi ke kantor Harian Serambi Indonesia.

Saat itu, Sjamsul Kahar menyambut langsung kunjungan tersebut.

“Foto itu bukan lahir semata-mata karena kebetulan. Ada kebiasaan dan arahan Pak Sjamsul kepada kami para fotografer untuk selalu menangkap ekspresi wajah,” kata Muhammad Anshar bercerita kepada Dialeksis (24 September 2026).

Anshar mengingat, ketika itu dirinya masih aktif menjalankan tugas fotografi jurnalistik menggunakan kamera Nikon D4s, salah satu kamera profesional dengan teknologi terdepan pada masanya.

Namun, menurut dia, kecanggihan peralatan fotografi tidak akan banyak berarti apabila seorang fotografer tidak memiliki kepekaan dalam membaca situasi dan ekspresi manusia.

Sjamsul Kahar, kata Anshar, merupakan sosok pemimpin media yang sangat memperhatikan detail sebuah foto jurnalistik.

Ia kerap mengingatkan fotografer Serambi Indonesia agar tidak sekadar merekam sebuah acara, tetapi juga mengabadikan berbagai ekspresi tokoh dan pejabat publik.

“Beliau selalu mengingatkan kami untuk memotret ekspresi wajah. Saat tersenyum, marah, serius, maupun ekspresi lainnya. Foto-foto itu nantinya bisa disesuaikan dengan judul dan kebutuhan berita,” ujar Anshar.

Arahan tersebut membuat fotografer tidak hanya memburu gambar seremonial. Mereka dituntut mampu membaca wajah dan suasana yang dapat memperkuat pesan dalam sebuah berita.

Karena itulah, dalam kunjungan Kepala OJK Aceh pada 2015 tersebut, Anshar tidak hanya memotret jalannya pertemuan. Ia juga mengambil sejumlah gambar Sjamsul Kahar secara lebih dekat.

Foto-foto tersebut kemudian disimpan dalam arsip redaksi untuk berbagai kebutuhan, mulai dokumentasi internal, ucapan selamat, hingga keperluan pemberitaan.

Anshar mengatakan dirinya bersama wartawan foto Serambi Indonesia, Hari Teguh Patria, juga kerap mengambil foto Sjamsul Kahar untuk kebutuhan dokumentasi dan pembuatan kartu identitas pers terbaru.

Menurut Anshar, kebiasaan tersebut merupakan bagian dari kultur jurnalistik yang dibangun Sjamsul Kahar di lingkungan Serambi Indonesia.

“Menekan shutter Nikon D4s saat itu bukan sekadar merekam gambar. Ada disiplin, arahan, dan cara pandang yang diajarkan Pak Sjamsul bahwa wajah adalah salah satu pintu masuk sebuah berita,” katanya.

Bagi Sjamsul Kahar, tutur Anshar, sebuah potret bukan sekadar pelengkap halaman koran.

Fotografer harus mampu menentukan kapan ekspresi tersenyum perlu diabadikan, kapan raut serius lebih relevan, serta bagaimana sebuah ekspresi dapat berbicara kepada pembaca.

“Potret bukan formalitas. Ia adalah bagian dari jurnalisme,” ujar Anshar mengenang pesan yang tertanam selama bekerja bersama almarhum.

Sebelas tahun kemudian, foto yang awalnya tersimpan sebagai bagian dari arsip jurnalistik itu memperoleh makna berbeda.

Setelah Sjamsul Kahar berpulang pada Kamis, 24 September 2026, foto tersebut muncul dalam berbagai desain ucapan belasungkawa yang beredar luas di ruang publik dan media sosial.

Bagi Anshar, potret itu kini tak lagi sekadar file digital yang tersimpan dalam komputer redaksi.

Ia telah berubah menjadi jejak sejarah, kenangan, sekaligus pengingat tentang seorang pemimpin pers yang memiliki perhatian besar terhadap detail jurnalistik.

“Foto-foto yang pernah kami rekam kini bukan lagi sekadar file di komputer. Ia menjadi jejak, kenangan, dan pelajaran tentang bagaimana seorang pemimpin menghargai detail,” katanya.

Anshar pun mengenang Sjamsul Kahar sebagai sosok yang bukan hanya memimpin sebuah perusahaan pers, tetapi juga ikut membentuk kepekaan para jurnalis dan fotografer yang bekerja bersamanya.

“Selamat jalan, Pak Sjamsul. Ilmu yang Bapak ajarkan akan selalu kami kenang. Semoga menjadi amal jariah,” tutup Muhammad Anshar. 

Share berita ini

dialeksis.com