DIALEKSIS.COM | Sabang - Malam di Kota Sabang kini memiliki denyut baru. Kawasan Tugu Menara Merah Putih yang sebelumnya dikenal sebagai salah satu ikon kota, perlahan tumbuh menjadi pusat wisata kuliner dan ruang berkumpul masyarakat.
Menjelang matahari terbenam, pengunjung mulai berdatangan. Mereka tidak hanya ingin mengabadikan panorama Teluk Sabang, tetapi juga menikmati beragam kuliner sambil merasakan embusan angin laut. Ketika malam tiba, cahaya dari menara dan lapak pedagang membuat kawasan tersebut semakin hidup.
Lokasinya yang strategis di pusat kota menjadikan Tugu Merah Putih mudah dijangkau. Kawasan ini pun menjadi pilihan bagi wisatawan yang masih ingin menikmati suasana Sabang setelah mengunjungi destinasi bahari seperti Iboih, Pulau Rubiah, Sumur Tiga, dan Kilometer Nol Indonesia.
Pilihan makanan yang tersedia cukup beragam, mulai dari sate gurita yang dikenal sebagai salah satu kuliner khas Sabang, makanan laut, aneka jajanan, kopi, hingga minuman segar. Kehadiran wahana permainan anak turut menjadikan kawasan ini sebagai tujuan rekreasi keluarga.
Sejumlah laporan sepanjang 2026 memperlihatkan kawasan Tugu Merah Putih ramai dikunjungi masyarakat lokal serta wisatawan domestik dan mancanegara, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Pengunjung mulai memadati kawasan tersebut sejak sore hingga malam hari.
Perubahan itu membuat Tugu Merah Putih tidak lagi sekadar menjadi latar berfoto. Kawasan tersebut mulai berkembang menjadi ruang publik yang mempertemukan wisata, kuliner, rekreasi keluarga, dan kegiatan ekonomi masyarakat dalam satu lokasi.
Geliat pengunjung juga membawa dampak bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Pedagang makanan, penjual minuman, pengelola permainan anak, hingga juru parkir ikut memperoleh manfaat dari meningkatnya aktivitas malam.
Dampak ekonomi tersebut terlihat saat libur Idulfitri 2026. Ramainya kunjungan membuat pendapatan petugas parkir meningkat dibandingkan hari biasa. Namun, lonjakan kendaraan sekaligus memperlihatkan keterbatasan lahan parkir, terutama bagi kendaraan roda empat.
Kehadiran pusat kuliner ini memberikan nilai tambah bagi pariwisata Sabang. Selama ini, kekuatan wisata Pulau Weh lebih banyak bertumpu pada pantai, panorama bawah laut, dan destinasi sejarah yang umumnya dikunjungi pada siang hari. Tugu Merah Putih kini mengisi ruang wisata malam yang sebelumnya relatif terbatas.
Jika dikelola secara konsisten, kawasan tersebut berpeluang mendorong wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak uang di Sabang. Manfaatnya tidak hanya dirasakan hotel dan restoran besar, tetapi juga pedagang kecil serta pekerja informal yang menggantungkan pendapatan pada pergerakan wisatawan.
Tugu Merah Putih juga memiliki posisi penting dalam penyelenggaraan kegiatan pariwisata berskala besar. Kawasan ini pernah menjadi salah satu pusat Sabang Marine Festival, yang melibatkan pelaku seni, komunitas, usaha wisata, dan UMKM lokal.
Meski demikian, meningkatnya kunjungan perlu diikuti penataan yang lebih baik. Ketersediaan tempat parkir, tempat sampah, toilet umum, penerangan, jalur pejalan kaki, dan pengaturan lapak pedagang menjadi kebutuhan penting agar kawasan tetap nyaman dan tertib.
Kebersihan juga harus menjadi tanggung jawab bersama. Aktivitas kuliner yang berkembang tanpa pengelolaan sampah memadai dapat mengurangi keindahan kawasan sekaligus mencemari lingkungan pesisir. Pedagang, pengunjung, dan pemerintah kota perlu menjaga Tugu Merah Putih sebagai ruang publik yang bersih dan berkelanjutan.
Pengembangan kawasan ini juga sebaiknya memberi ruang utama kepada UMKM lokal. Penataan tidak boleh menghilangkan karakter kerakyatan yang membuat pusat kuliner tersebut tumbuh. Sebaliknya, pedagang perlu diperkuat melalui pembinaan kebersihan, standar pelayanan, variasi menu, pembayaran digital, dan promosi bersama.
Tugu Merah Putih kini memperlihatkan wajah baru Sabang. Pada siang hari, menara itu berdiri sebagai ikon di tepian kota. Pada malam hari, ia berubah menjadi ruang perjumpaan yang menghidupkan ekonomi warga.
Sabang pun tak lagi hanya menawarkan matahari, pantai, dan laut. Ketika gelap turun, kota di ujung barat Indonesia itu tetap menyala melalui aroma kuliner, keramaian keluarga, dan geliat usaha masyarakat. [red]
Share berita ini