Rohingya di Eks Kantor Imigrasi Lhokseumawe di Demo

DIALEKSIS.COM | Lhokseumawe - Sekelompok warga di kota Lhokseumawe melaksanakan aksi unjuk rasa di halaman eks Kantor Imigrasi Kota Lhokseumawe, Blang Mangat, Kota Lhokseumawe pada Kamis (8/12/2022).

Aksi itu dilakukan untuk menolak para pengungsi Rohingya karena dinilai telah mencoreng adat istiadat di Aceh yakni laki-laki dan perempuan dicampur pada satu tempat dan tidak dipisah sama sekali. 

Beni Murdani selaku koordinator aksi mengatakan, para pengungsi ini ditempatkan di bekas kantor imigrasi tanpa adanya pemisahan laki-laki dan perempuan.

“Keberadaan mereka di eks kantor imigrasi Lhokseumawe baik itu laki-laki dan perempuan sangat mengganggu aktivitas warga dan tidak menghargai kearifan lokal serta bertolak belakang dengan penerapan syariat islam di Aceh,” katanya dalam keterangannya yang diterima Dialeksis.com, Jumat (9/12/2022). 

Bahkan, kata Beni, ada pengungsi yang diketahui mengambil kelapa tanpa izin dari kebun warga.

Oleh karenanya, dia meminta pihak UNHCR segera relokasi imigran Rohingya dari Aceh dalam waktu 4 X 24 jam. 

Jika tidak tuntutan tidak dipenuhi makan pihaknya akan kembali dengan melakukan unjuk rasa dengan jumlah massa yang lebih banyak hingga imigran Rohingya tersebut direlokasi ke tempat lain.


Adapun beberapa poin dalam aksi unjuk rasa itu diantaranya, yakni; 

1. Mendesak Walikota Lhokseumawe dalam hal penanganan para imigran

2. Meminta UNHCR untuk melakukan koordinasi dengan pemerintah Lhokseumawe dalam hal penanganan para imigran

3. Mendesak UNHCR dalam waktu 4 X 24 jam melakukan pemindahan imigran keluar dari Aceh. Apabila dalam waktu yang sudah ditentukan tidak dipenuhi maka kami akan mengambil tindakan tegas dengan jumlah massa yang lebih banyak. 

Dalam surat tuntutan itu bertuliskan ‘Finishkan PERPRES No. 125/206 terkait penanganan pengungsi dari luar negeri. 

Walaupun demikian, Beni mengatakan, hadirnya mereka (Etnis Rohingya_Red) sudah diberi toleransi yang datang ke Aceh. “Namun ketika, sudah tidak kondusif, tidak sejalan syariat islam dan kearifan lokal, maka kami mencoba mengambil tindakan,” tegasnya.

Sebelumnya, sebanyak 229 etnis Rohingya ini mendarat di Aceh Utara sebanyak kloter, yakni pada pada 15 November 2022 sebanyak 110 orang terdampar di pesisir Aceh Utara tepatnya di desa Meunasah Lhok, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara. Kemudian, pada 16 November 2022 sebanyak 119 orang terdampar di pesisir Aceh Utara tepatnya di Kecamatan Dewantara.


Tanggapan UNHCR

Dikutip dari BBC, UNHCR menyayangkan aksi unjuk rasa tersebut yang bertujuan “Mengusir” pengungsi Rohingya. 

Associate Communications Officer UNHCR Indonesia, Mitra Suryono menyebutkan sebagai tanda-tanda memudarnya rasa kemanusiaan.

“Sangat disayangkan bahwa saat ini kami melihat solidaritas terhadap pengungsi memudar pada waktu-waktu sebelumnya,” kata Mitra. 

Bahkan, Mitra mengatakan, mengingatkan kembali posisi para etnis Rohingya yang telah kehilangan segala-galanya. 

“Kami berharap semangat kemanusiaan ini akan terus ada di negeri ini, negeri yang rakyatnya dikenal baik sebagai orang-orang yang bersahabat dimata dunia,” pungkasnya. [ftr/bna]

Share berita ini

dialeksis.com