DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Bupati Aceh Barat dua periode, Ramli MS, menilai pelaksanaan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus memperkenalkan keramahan Aceh kepada masyarakat internasional. Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus dirawat melalui dialog yang terbuka dan saling menghormati.
Dalam tanggapan tertulis yang disampaikan kepada Dialeksis, Ramli menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan yang dipimpin Abuya Syekh Amran Waly al-Khalidi itu. Menurutnya, pertemuan para ulama dan jemaah membawa suasana religius, ketenangan, serta manfaat bagi masyarakat.
Ramli menyebut kehadiran puluhan ribu jemaah yang memadati Banda Aceh turut menggerakkan kegiatan ekonomi, terutama bagi para pedagang. Kehadiran peserta dari 21 negara, sebagaimana disampaikannya, juga menjadi kesempatan memperluas pengenalan dunia terhadap Aceh.
Ia menilai perjumpaan langsung antara tamu dari berbagai negara dan masyarakat setempat dapat membantu membangun pemahaman yang lebih utuh tentang kehidupan di Aceh. Keramahan warga, kekayaan tradisi, dan suasana keagamaan diharapkan meninggalkan kesan baik bagi para peserta.
Bagi Ramli, pengalaman tersebut merupakan modal untuk memperkuat citra Aceh sebagai daerah yang damai dan terbuka bagi kunjungan wisatawan internasional.
Di tengah manfaat kegiatan itu, Ramli juga mengajak masyarakat menyikapi perbedaan pandangan keagamaan secara bijaksana. Ia berharap setiap pertanyaan maupun keberatan terhadap ajaran yang disampaikan dalam lingkungan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTTI) dapat dibicarakan melalui forum yang tepat.
Menurutnya, penjelasan langsung perlu didengar agar penilaian tidak bertumpu pada informasi yang terpotong atau pemahaman yang belum lengkap. Pada saat yang sama, ruang bagi pertanyaan, nasihat, dan klarifikasi perlu dibuka dengan tetap menjaga adab serta penghormatan antarsesama.
Ramli, yang menyampaikan pandangannya sebagai pengurus organisasi Macan Asia Indonesia, berharap para pemimpin Aceh bersama ulama mengambil peran dalam menjembatani komunikasi tersebut.
Ia mengusulkan agar Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) memfasilitasi pertemuan dengan Abuya Amran Waly. Forum itu diharapkan menjadi ruang mendengarkan penjelasan, membahas persoalan secara keilmuan, dan mencari titik temu atas hal-hal yang dipahami berbeda.
Ramli menekankan bahwa musyawarah hendaknya diarahkan untuk menghadirkan pemahaman dan ketenteraman bagi umat. Perbedaan perlu dibicarakan dengan kepala dingin, tanpa saling merendahkan maupun melukai kehormatan pihak lain.
Ia berharap semangat persaudaraan menjadi pegangan bersama dalam merawat kehidupan beragama di Aceh. Dengan komunikasi yang baik dan kesediaan saling mendengarkan, kesalahpahaman diharapkan dapat diurai, sementara kedamaian yang dirasakan masyarakat terus dijaga. []
Share berita ini