Dahlan Iskan Ajak Mualem Belajar dari Luhut Binsar Pandjaitan

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Tulisan yang dimuat di laman Facebook Dahlan Iskan Inspirasiku menyoroti kepemimpinan Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau Mualem dalam momentum 21 tahun perdamaian Aceh.

Melalui tulisan tersebut, Dahlan Iskan mendorong Mualem agar tidak hanya fokus menagih komitmen Pemerintah Pusat terkait MoU Helsinki, tetapi juga memperkuat pembangunan sumber daya manusia (SDM) Aceh.

Dalam tulisannya, Dahlan Iskan mengingat kembali pidato Mualem pada peringatan 20 tahun perdamaian Aceh tahun lalu. Saat itu, Mualem disebut menyampaikan pidato emosional dan menyinggung realisasi komitmen MoU Helsinki yang dinilai belum optimal.

Mualem kala itu, tulis Dahlan Iskan, menyebut pemerintah pusat baru merealisasikan sekitar 35 persen komitmen MoU Helsinki. Ia juga meminta para mantan kombatan bersabar karena dirinya akan menemui Presiden untuk menagih berbagai komitmen tersebut.

Namun, memasuki tahun ke-21 perdamaian Aceh, Dahlan Iskan mempertanyakan sampai kapan Aceh akan terus bergantung pada komitmen pemerintah pusat.

“Sampai kapan Aceh terus meratap dan bergantung pada komitmen pusat?” tulisnya.

Menurut Dahlan Iskan, mengelola pemerintahan sipil dan mengejar ketertinggalan pascakonflik tidak cukup hanya dengan retorika politik atau diplomasi keprihatinan.

Ia kemudian menyarankan Mualem melihat pengalaman Luhut Binsar Pandjaitan (LBP), khususnya dalam membangun SDM dan menempatkan tenaga profesional di lingkaran pengambilan kebijakan.

Belajar dari Luhut

Dahlan Iskan menyebut LBP kerap dijuluki sebagai “menteri segala bidang” karena sering dipercaya menangani berbagai persoalan strategis nasional.

Namun, menurutnya, kemampuan LBP tidak hanya terletak pada kapasitas pribadi, melainkan pada ekosistem intelektual yang dibangunnya.

Ia menyoroti keberadaan anak-anak muda berpendidikan tinggi dan memiliki kemampuan di bidang sains, teknologi serta analisis data yang berada di sekitar LBP.

“Rahasia utama LBP bukanlah pada kesaktian pribadinya, melainkan pada ekosistem intelektual yang ia bangun secara konsisten dalam jangka panjang,” tulis Dahlan Iskan.

Ia juga menyinggung Yayasan Del yang didirikan Luhut di Toba, Sumatera Utara. Yayasan tersebut kemudian berkembang melalui Institut Teknologi Del dan SMA Unggul Del.

Bagi Dahlan Iskan, langkah tersebut menunjukkan pentingnya investasi pendidikan sebagai fondasi pembangunan daerah.

Soroti Meritokrasi di Aceh

Dalam tulisannya, Dahlan Iskan kemudian menyoroti kondisi di sekitar pemerintahan Aceh.

Ia menilai publik belum banyak melihat barisan teknokrat muda dengan kapasitas tinggi dan nilai keacehan yang kuat yang mendampingi Mualem dalam merumuskan kebijakan.

Sebaliknya, ia mengkritik apa yang disebutnya sebagai kecenderungan pembagian jabatan birokrasi dan lembaga kepada simpatisan, loyalis politik maupun kelompok yang memiliki kedekatan tertentu.

“Meritokrasi dikesampingkan demi mengamankan kompromi politik jangka pendek,” tulisnya.

Dahlan Iskan juga menyinggung respons pemerintah terhadap persoalan bencana yang pernah melanda Aceh. Menurutnya, penanganan krisis membutuhkan sistem yang terukur, berbasis data serta ditopang tenaga ahli.

Padahal, Aceh disebut memiliki banyak SDM potensial, termasuk sarjana dan alumni perguruan tinggi luar negeri.

Namun, ia menilai belum ada strategi talent management yang jelas untuk mengoptimalkan potensi tersebut bagi pembangunan Aceh.

Dorong Mualem Kaderisasi Anak Muda

Dahlan Iskan menilai Mualem memiliki legitimasi politik dan historis yang kuat untuk memulai gerakan kaderisasi SDM Aceh secara besar-besaran.

Ia mendorong agar anak-anak muda Aceh, termasuk korban konflik, anak cucu mantan kombatan serta talenta dari pelosok gampong, diberi kesempatan menempuh pendidikan di lembaga terbaik dunia.

Aceh, katanya, tidak hanya membutuhkan generasi yang menguasai sains, teknologi, bioteknologi dan manajemen krisis, tetapi juga membutuhkan regenerasi ulama.

Ulama masa depan Aceh, menurutnya, tidak cukup hanya menguasai turats, tetapi juga harus memiliki wawasan keislaman yang luas, berpikiran maju dan memiliki jejaring internasional.

Singgung Hasan Tiro

Dahlan Iskan juga mengajak Mualem mengingat kembali sosok pendiri GAM, Hasan Muhammad di Tiro.

Ia menilai Hasan Tiro telah memberikan perhatian terhadap ilmu pengetahuan, kesadaran sejarah dan literasi ideologi sebelum membangun perjuangan bersenjata.

“Beliau paham betul bahwa peradaban dan martabat suatu bangsa hanya bisa ditegakkan dengan ilmu pengetahuan,” tulisnya.

Karena itu, ia mengajak para tokoh eks-kombatan meninggalkan mentalitas “peuglah pucok droe”, yang dalam konteks tulisannya dimaknai sebagai sikap yang lebih mengutamakan keselamatan, kepentingan dan posisi kelompok sendiri.

Menurutnya, Mualem harus mampu melampaui sekat kelompok dan kembali memikirkan kepentingan Aceh secara utuh.

“Belajarlah kepada LBP”

Dahlan Iskan menegaskan, ajakan kepada Mualem untuk belajar dari Luhut bukan berarti meniru seluruh gaya politik LBP.

Yang dinilai penting, kata dia, adalah kemampuan menempatkan orang profesional dan berilmu sesuai kompetensinya.

“Belajar dari LBP bukan berarti Mualem harus meniru aspek politik transaksionalnya, melainkan meniru ketajaman usahanya, bahwa dalam politik transaksional sekalipun, LBP tetap mampu menempatkan orang-orang profesional dan berilmu pada porsi yang tepat (right man on the right place),” tulisnya.

Ia menilai investasi pendidikan yang dilakukan LBP dapat menjadi pelajaran bagi Aceh dalam membangun warisan jangka panjang.

Memasuki 21 tahun perdamaian Aceh, Dahlan Iskan berpandangan bahwa masa depan Aceh tidak bisa dibangun hanya dengan nostalgia konflik, keluhan terhadap minimnya realisasi komitmen pusat ataupun pembagian kekuasaan kepada loyalis politik.

“Warisan terbesar seorang Mualem kelak bukanlah seberapa lama ia menggenggam kekuasaan di Aceh, melainkan seberapa banyak anak muda cerdas berintegritas yang berhasil ia kader untuk memimpin dan menyelamatkan Aceh di masa depan,” tulis Dahlan Iskan.

Di akhir tulisannya, Dahlan Iskan menyampaikan pesan kepada Mualem agar memanfaatkan masa kepemimpinannya untuk membangun fondasi SDM Aceh.

“Sebelum waktu kepemimpinannya berlalu, Mualem: belajarlah kepada LBP!” demikian pesan yang dimuat laman Facebook Dahlan Iskan Inspirasiku.[red]

Share berita ini

dialeksis.com