Otto Syamsuddin Ishak: Ketahanan Sosial Aceh Perlu Terus Dikaji

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Akademisi Aceh sekaligus mantan Ketua Komnas HAM, Dr. H. Otto Syamsuddin Ishak, menilai ketahanan sosial masyarakat Aceh perlu terus dikaji, terutama setelah melewati konflik bersenjata, bencana, dan proses panjang membangun kembali kehidupan sosial.

Menurut Otto, buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Pasca Konflik karya Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si., dapat menjadi pemantik untuk memperluas kajian tersebut.

Hal itu disampaikan Otto saat memberikan tanggapan dalam kegiatan peluncuran dan bedah buku yang digelar DPD Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) Aceh di Banda Aceh, Selasa (25/8/2026).

“Saya berharap buku Yusri ini menjadi pemancing atau memberikan inspirasi untuk kajian-kajian berikutnya,” kata Otto dalam menanggapi diskusi buku yang dihadiri media dialeksis.com.

Ia mengatakan, buku tersebut penting karena tidak hanya melihat Aceh dari perspektif konflik, tetapi juga mengajak pembaca memahami bagaimana masyarakat bertahan, beradaptasi, dan membangun kembali kehidupan sosial setelah konflik.

Menurut Otto, masih banyak aspek kehidupan masyarakat Aceh yang perlu dikaji lebih dalam, terutama dampak konflik terhadap hubungan sosial, keluarga, gampong hingga karakter masyarakat.

Ia menjelaskan, dampak konflik tidak hanya berupa kerusakan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi struktur dan hubungan sosial masyarakat.

“Pada level masyarakat, pada level keluarga, kita bisa melihat bagaimana konflik itu menghancurkan karakter dan hubungan sosial,” ujarnya

Otto juga menilai karakter masyarakat Aceh yang terbuka membuat hubungan antarmasyarakat dan kohesi sosial menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menurutnya, kajian ketahanan sosial perlu melihat kembali nilai-nilai yang menjadi dasar kohesi masyarakat Aceh, mulai dari adat, gampong, sejarah, pendidikan hingga kehidupan sosial.

“Yang perlu kita kaji adalah nilai-nilai apa yang menjadi dasar kohesi sosial dan apa yang mendorong masyarakat untuk mempertahankan kohesi tersebut,” katanya.

Otto turut menyoroti peran gampong dalam kehidupan masyarakat Aceh. Menurutnya, gampong bukan hanya wilayah administratif, tetapi juga memiliki fungsi sosial dan politik yang penting.

“Gampong itu adalah struktur sosial sekaligus struktur politik. Kalau mau sukses dalam membangun perdamaian, struktur seperti ini harus diadopsi,” ujarnya.

Menurut Otto, struktur sosial yang berfungsi dengan baik dapat membantu menjaga kohesi masyarakat. Sebaliknya, jika fungsi tersebut melemah, potensi keretakan sosial bisa kembali muncul.

Ia juga mengingatkan bahwa perdamaian tidak cukup hanya dimaknai sebagai berhentinya konflik atau kekerasan. Perdamaian harus tercermin dari kemampuan masyarakat menjaga hubungan sosial, membangun kepercayaan, serta menciptakan kehidupan yang lebih baik.

Dalam konteks tersebut, Otto menilai buku karya Yusri Kasim memiliki nilai penting karena membuka kembali pembahasan mengenai kondisi Aceh pascakonflik.

“Buku ini seperti membuka wajah kembali. Masih banyak hal yang perlu ditemui dan dikaji,” katanya.

Ia berharap buku tersebut tidak berhenti sebagai karya akademik, tetapi dapat menjadi pintu masuk bagi peneliti, akademisi dan masyarakat untuk melakukan kajian lebih luas mengenai ketahanan sosial Aceh.

“Buku ini bukan sebuah buku yang selesai begitu saja. Justru menjadi pemancing untuk membuka kajian-kajian baru,” pungkas Otto.

Buku Aceh dan Ujian Ketahanan Sosial: Pelajaran dari Daerah Pasca Konflik karya Dr. Yusri Kasim, SE, M.Si., diterbitkan oleh CISSReC dan Yayasan Lembaga Riset Siber Indonesia, dengan editor Dr. Pratama Persadha.

Buku setebal hampir 300 halaman tersebut mengajak pembaca melihat perjalanan Aceh bukan hanya sebagai daerah bekas konflik dan bencana, tetapi sebagai ruang pembelajaran mengenai bagaimana masyarakat mampu bertahan, beradaptasi dan bangkit. [nh]

Share berita ini

dialeksis.com