DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Bimbingan dan Konseling (BK) Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan inovasi teknologi untuk mendukung layanan konseling di sekolah.
Melalui Project Kepemimpinan, mahasiswa PPG BK USK resmi melakukan uji coba implementasi MEURATEB (Media Ruang Terbuka dan Pendampingan BK) di SMKN 1 Al Mubarkeya, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.
Aplikasi berbasis web tersebut dirancang untuk mendigitalisasi layanan Bimbingan dan Konseling (BK), sekaligus membuka ruang komunikasi yang lebih mudah, aman, dan dekat dengan kebutuhan peserta didik di era digital.
Ketua Project Kepemimpinan PPG BK USK, Hibatullah Nibraas, S.Pd., yang juga demisioner Ketua BEM FKIP USK 2024, mengatakan MEURATEB lahir dari kebutuhan untuk menghadirkan layanan BK yang lebih adaptif terhadap perkembangan teknologi dan karakter generasi muda.
Menurutnya, teknologi dalam MEURATEB bukan dimaksudkan untuk menggantikan interaksi langsung antara siswa dan guru BK. Sebaliknya, teknologi digunakan sebagai jembatan agar siswa lebih mudah mengakses layanan pendampingan.
“Aplikasi ini tidak diciptakan untuk menggantikan kehangatan tatap muka, melainkan untuk memperluas akses dan jalan menuju bantuan,” kata Hibatullah kepada media dialeksis.com, Minggu (4/10/2026).
Ia menjelaskan, salah satu persoalan yang ingin dijawab melalui MEURATEB adalah masih adanya anggapan bahwa ruang BK hanya diperuntukkan bagi siswa yang memiliki masalah.
Karena itu, MEURATEB dirancang sebagai ruang digital yang memungkinkan siswa mengekspresikan kondisi diri secara lebih nyaman sekaligus memperoleh pendampingan sesuai kebutuhannya.
“Melalui MEURATEB, kami ingin menghapus stigma negatif bahwa ruang BK hanya untuk anak bermasalah. Ini adalah wadah ekspresi aman bagi siswa, sekaligus instrumen yang memampukan Guru BK bekerja secara lebih terstruktur dan berdampak nyata bagi well-being peserta didik,” ujarnya.
Nama MEURATEB tidak dipilih secara kebetulan. Konsep tersebut mengadopsi filosofi lokal Aceh melalui kata rateb, yang dimaknai sebagai momentum untuk berhenti sejenak, menyadari kondisi diri, mencari bantuan, dan menemukan kembali arah menuju kebaikan.
Filosofi tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah platform digital yang berorientasi pada kebutuhan psikososial dan perkembangan peserta didik.
Uji coba implementasi yang dilakukan pada akhir September 2026 mendapat respons positif dari warga sekolah. Siswa menilai keberadaan platform digital tersebut memberikan alternatif baru untuk berkomunikasi dan mengekspresikan perasaan tanpa harus selalu memulai dengan percakapan tatap muka.
Hibatullah menjelaskan, MEURATEB memiliki tiga hak akses utama, yakni siswa, guru BK, dan administrator. Pembagian tersebut dibuat agar setiap pengguna memperoleh fungsi sesuai perannya dalam ekosistem layanan konseling sekolah.
Platform ini juga dilengkapi sejumlah fitur yang dirancang untuk mendukung proses pendampingan peserta didik. Di antaranya jurnal emosi, triase kedaruratan, ruang diskusi melalui threads, hingga career center.
Jurnal emosi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk merefleksikan kondisi dirinya, sementara fitur triase kedaruratan diarahkan untuk membantu mengidentifikasi kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut.
Adapun career center memberikan ruang untuk mendukung siswa dalam mengenali dan mempersiapkan pilihan pendidikan maupun karier.
Menurut Hibatullah, keberhasilan uji coba di SMKN 1 Al Mubarkeya menjadi tahap awal untuk mengembangkan MEURATEB agar dapat diterapkan secara lebih luas.
Tim pengembang berencana membuka peluang kolaborasi dengan Musyawarah Guru Bimbingan dan Konseling (MGBK), baik di tingkat kabupaten maupun provinsi.
Ia menambahkan, pengembangan MEURATEB juga diarahkan untuk mendukung ekosistem pendidikan yang lebih inklusif, responsif, dan berbasis teknologi.
Inovasi tersebut sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan pembangunan berkelanjutan pada bidang kesehatan dan kesejahteraan serta pendidikan berkualitas.
"Kami berharap MEURATEB tidak berhenti sebagai project kepemimpinan mahasiswa. Kami ingin terus mengembangkan dan mengujinya agar bisa memberikan manfaat yang lebih luas bagi layanan BK di sekolah,” tutupnya. [nh]
Share berita ini