DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Museum Aceh mencatat sebanyak 3.176 pengunjung sepanjang Juli 2026 berdasarkan data aplikasi e-ticket. Dari jumlah tersebut, sebanyak 261 orang merupakan wisatawan mancanegara, 1.243 pengunjung anak-anak, dan 1.672 pengunjung dewasa.
Selama periode tersebut, Museum Aceh membukukan pendapatan sebesar Rp16.004.000. Pendapatan itu berasal dari penjualan tiket wisatawan mancanegara sebesar Rp3.915.000, pengunjung anak-anak Rp3.729.000, serta pengunjung dewasa Rp8.360.000.
Namun, dibandingkan Juli 2025, jumlah pengunjung Museum Aceh mengalami penurunan. Tahun lalu, museum ini menerima 3.821 pengunjung, sedangkan pada Juli 2026 jumlahnya menjadi 3.176 orang atau berkurang 645 pengunjung, setara penurunan 16,9 persen.
Penurunan juga terjadi pada pendapatan tiket. Jika pada Juli 2025 Museum Aceh memperoleh Rp21.711.000, maka pada Juli 2026 pendapatannya turun menjadi Rp16.004.000.
Penurunan paling signifikan terjadi pada kunjungan wisatawan mancanegara. Jumlah wisatawan asing yang datang ke Museum Aceh turun dari 548 orang pada Juli 2025 menjadi 261 orang pada Juli 2026 atau berkurang sekitar 52 persen.
Selain itu, jumlah pengunjung anak-anak juga menurun dari 1.437 menjadi 1.243 orang. Sementara pengunjung dewasa turun dari 1.836 orang menjadi 1.672 orang.
Meski demikian, secara kumulatif kinerja Museum Aceh sepanjang 2026 masih menunjukkan tren positif dari sisi jumlah kunjungan. Hingga 31 Juli 2026, museum tersebut telah menerima 27.975 pengunjung atau meningkat 1.552 orang dibandingkan periode Januari-Juli 2025 yang mencatat 26.423 pengunjung. Kenaikan tersebut setara 5,9 persen.
Di sisi lain, total pendapatan Museum Aceh selama Januari hingga Juli 2026 mencapai Rp130.083.000. Nilai itu masih lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp137.395.000, sehingga terjadi penurunan sebesar Rp7.312.000 atau 5,3 persen.
Turunnya pendapatan meski jumlah pengunjung meningkat dipengaruhi perubahan komposisi pengunjung. Jumlah wisatawan mancanegara yang membayar tarif tiket tertinggi turun hingga 35,7 persen, sementara kenaikan kunjungan lebih banyak berasal dari pengunjung anak-anak dan dewasa yang tarif tiketnya lebih rendah.
Akibatnya, total kunjungan mengalami peningkatan, tetapi pendapatan dari penjualan tiket justru menurun.
Museum Aceh menyatakan akan terus meningkatkan kualitas layanan, memperkuat program edukasi, serta menghadirkan berbagai kegiatan publik guna memperkuat perannya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya Aceh sekaligus destinasi wisata edukasi bagi masyarakat.
Data kunjungan dan pendapatan tersebut dihimpun melalui aplikasi e-ticket Museum Aceh dan disusun berdasarkan rekapitulasi hingga 31 Juli 2026. [*]
Share berita ini