DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Media daring perlu mengembangkan pemberitaan dari berbagai sudut pandang agar informasi yang disajikan kepada masyarakat tidak sekadar mengulang rilis, tetapi juga memberikan kedalaman, konteks, dan nilai tambah bagi pembaca.
Hal itu disampaikan Uzair, Wartawan Utama sekaligus CEO Radio Antero dan Pemimpin Redaksi anterokini.com, saat menjadi pemateri dalam pelatihan kode etik jurnalistik yang diselenggarakan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Aceh di Banda Aceh, Sabtu-Minggu, 10-11 Oktober 2026.
Dalam pelatihan bertema “Penguatan Profesionalisme Wartawan melalui Penerapan Kode Etik Jurnalistik” tersebut, Uzair membahas strategi content pillar sebagai salah satu pendekatan untuk mengembangkan pemberitaan media daring agar lebih mendalam dan terstruktur.
"Konsep content pillar menempatkan satu isu utama sebagai dasar pengembangan sejumlah artikel yang saling berkaitan, tetapi memiliki sudut pandang berbeda. Dengan strategi ini, media tidak hanya mengejar jumlah berita, tetapi juga memperkaya informasi yang diterima pembaca. Misalnya, sebuah kebijakan pemerintah tidak cukup hanya diberitakan berdasarkan pengumuman resmi," ujarnya.
Ia mengatakan media dapat mengembangkan isu tersebut menjadi berita utama mengenai isi kebijakan, berita tentang dampaknya terhadap masyarakat, hingga laporan yang mengulas persoalan dalam pelaksanaannya serta tanggapan pemerintah terhadap kritik publik.
Pengembangan berita tersebut harus didukung sumber yang jelas, informasi yang relevan, dan peliputan tambahan untuk memastikan setiap artikel memiliki nilai jurnalistik tersendiri.
"Strategi ini juga membantu media menghubungkan artikel melalui tautan internal atau internal linking, sehingga pembaca dapat mengikuti perkembangan suatu isu secara berkelanjutan," ujarnya.
Dalam praktiknya, media juga perlu menghindari pengemasan ulang informasi atau repackaging yang hanya mengubah judul dan susunan kalimat tanpa menghadirkan fakta baru.
Pemberitaan yang dikembangkan dari satu isu harus menawarkan perspektif, data, atau penjelasan tambahan. Dengan demikian, pembaca memperoleh pemahaman yang lebih utuh, bukan sekadar membaca informasi serupa dalam beberapa artikel.
Selain strategi pengembangan konten, pembahasan turut menyoroti pentingnya orisinalitas berita di tengah persaingan media digital dan penerapan optimasi mesin pencari atau search engine optimization (SEO).
Penggunaan kata kunci saja tidak cukup untuk menghasilkan pemberitaan yang bermanfaat. Media perlu menyajikan informasi yang akurat, relevan, dan menjawab kebutuhan pembaca.
Artikel yang terbit lebih dahulu juga tidak otomatis menjadi hasil pencarian terbaik.
Kualitas informasi, kegunaan konten, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan pengguna turut menjadi pertimbangan dalam sistem pencarian.
Bagi media lokal, orisinalitas dapat dibangun melalui kedekatan wartawan dengan peristiwa dan masyarakat di daerahnya. Wawancara langsung dengan warga terdampak, penelusuran dokumen dan anggaran daerah, pemeriksaan pelaksanaan kebijakan, serta pengungkapan persoalan yang belum banyak diberitakan dapat memberikan nilai tambah bagi sebuah artikel.
"Pendekatan tersebut membuat media lokal memiliki ruang untuk menghadirkan laporan yang lebih kontekstual dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat," ujarnya.
Dalam materi yang sama, Uzair juga membahas pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dalam kerja jurnalistik.
AI dapat membantu wartawan mencari ide pemberitaan, menyusun pertanyaan wawancara, mengembangkan alternatif judul, melakukan penyuntingan awal, hingga mengolah data untuk menemukan pola yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Namun, teknologi tersebut harus ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti peran wartawan. Setiap informasi yang dihasilkan dengan bantuan AI tetap harus melalui verifikasi, pemeriksaan fakta, dan penyuntingan sebelum diterbitkan.
Wartawan juga harus menghindari penggunaan AI untuk menciptakan kutipan, fakta, narasumber, atau peristiwa yang tidak pernah terjadi. Tanggung jawab atas isi berita tetap berada pada wartawan dan redaksi.
Karena itu, pemanfaatan teknologi perlu berjalan seiring dengan penerapan kode etik jurnalistik, terutama dalam menjaga akurasi, independensi, dan kepercayaan publik.
Selain itu, kata Uzair, wartawan dan editor perlu memeriksa ketepatan diksi, struktur kalimat, penggunaan istilah, tanda baca, serta keterbacaan berita sebelum diterbitkan.
Kebiasaan menerjemahkan pola kalimat bahasa asing secara langsung ke dalam bahasa Indonesia juga perlu dihindari karena struktur kedua bahasa tidak selalu sama. Penggunaan kata penghubung, tanda koma, dan penulisan jabatan yang diikuti nama seseorang harus disesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.
"Penyuntingan tidak hanya bertujuan memastikan kebenaran fakta, tetapi juga membuat informasi tersampaikan secara jelas dan mudah dipahami pembaca," tutupnya. [nh]
Share berita ini