DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pendiri Mahasiswa Peduli Dayah, Muhammad Afif Irvandi El Tahiry, menegaskan bahwa upaya pencegahan penyebaran LGBT di Aceh harus dimulai dari penguatan pendidikan, peran keluarga, dan pembinaan karakter generasi muda. Menurutnya, pendekatan edukatif jauh lebih efektif dibandingkan hanya mengandalkan penindakan.
Pernyataan tersebut disampaikan Afif sebagai tanggapan atas sikap Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) yang menjadikan persoalan LGBT sebagai salah satu isu prioritas dalam rapat Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Aceh di Kantor Gubernur Aceh, Kamis (23/7/2026).
Dalam rapat tersebut, Pemerintah Aceh menyoroti semakin masifnya penyebaran konten LGBT di ruang digital maupun komunitas tertentu.
Pemerintah juga berencana memperkuat langkah pencegahan melalui revisi Peraturan Gubernur tentang Gugus Tugas Pencegahan Pornografi, penguatan ketahanan keluarga, serta pembentukan tim terpadu untuk memantau aktivitas di ruang publik dan media sosial.
Menanggapi hal itu, Afif menilai perhatian Gubernur Mualem terhadap persoalan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga nilai-nilai syariat Islam yang menjadi kekhususan Aceh.
"Langkah yang disampaikan Pak Mualem menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan pembangunan moral dan karakter masyarakat. Hal ini penting agar nilai-nilai yang menjadi identitas Aceh tetap terjaga," kata Afif kepada Dialeksis.com, Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, Afif menekankan bahwa upaya pencegahan tidak boleh berhenti pada aspek regulasi atau penegakan hukum semata. Ia menilai pendidikan menjadi fondasi utama dalam membangun ketahanan moral generasi muda.
Menurutnya, dayah memiliki posisi strategis dalam membentuk akhlak dan karakter masyarakat Aceh. Karena itu, pemerintah perlu memperkuat kolaborasi dengan lembaga pendidikan Islam, sekolah, keluarga, serta berbagai elemen masyarakat.
"Dayah memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk akhlak generasi muda. Pemerintah perlu terus memperkuat sinergi dengan dayah, sekolah, keluarga, dan masyarakat agar upaya pencegahan dilakukan melalui pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan," ujarnya.
Afif juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi informasi menghadirkan tantangan baru. Akses yang semakin mudah terhadap berbagai konten digital membuat literasi digital dan pengawasan orang tua menjadi sangat penting.
"Media sosial hari ini menjadi ruang yang sangat terbuka. Karena itu, keluarga harus menjadi benteng pertama dalam memberikan pemahaman agama dan nilai-nilai moral kepada anak. Pemerintah juga perlu memperkuat edukasi dengan melibatkan tokoh agama, akademisi, dan organisasi kepemudaan," katanya.
Ia berharap langkah yang ditempuh Pemerintah Aceh dapat mengedepankan pendekatan edukatif, preventif, dan pembinaan yang berkelanjutan sehingga mampu memperkuat karakter generasi muda tanpa mengesampingkan nilai-nilai kemanusiaan dan ketentuan hukum yang berlaku.
"Kami mendukung komitmen Gubernur Mualem dalam menjaga nilai-nilai syariat Islam di Aceh. Namun, upaya tersebut harus dibarengi dengan pembinaan, edukasi, serta kolaborasi semua pihak agar menghasilkan dampak yang nyata bagi masyarakat," tutup Afif. [nh]
Share berita ini