Kritik Penanganan Bencana Aceh, Massa Bentangkan Bendera Bintang Bulan dan Bakar Ban

DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Aksi unjuk rasa gabungan mahasiswa dan Aliansi Rakyat Aceh (ARA) di depan Kantor Gubernur Aceh, Jumat (3/7/2026), berlangsung memanas. 

Massa membentangkan bendera Bintang Bulan, membakar ban bekas, serta mencoret bagian depan gedung kantor pemerintahan sebagai bentuk protes terhadap penanganan bencana di Aceh.

Aksi tersebut diikuti gabungan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Indonesia (UI), Dewan Mahasiswa (Dema) UIN Ar-Raniry, Pemerintahan Mahasiswa (Pema) Universitas Serambi Mekkah (USM), Pema Universitas Abulyatama (UNIDA), bersama Aliansi Rakyat Aceh (ARA).

Dalam orasinya, massa menilai pemerintah belum serius menangani masyarakat terdampak bencana. Mereka menyebut para korban masih menunggu kepastian terkait bantuan, hunian sementara, dan pemulihan pascabencana.

"Sudah delapan bulan mereka menderita dan belum bisa tidur dengan tenang. Sudah delapan bulan pemerintah memberikan harapan yang tidak kunjung terwujud. Di mana hati nurani pemerintah hari ini?" ujar salah seorang peserta aksi, Darris.

Koordinator lapangan aksi, Rivaldi, mengatakan massa datang untuk menyampaikan aspirasi masyarakat yang hingga kini masih menanti penanganan yang lebih nyata dari pemerintah.

Ia juga menjelaskan bahwa bendera Bintang Bulan yang dibentangkan dalam aksi merupakan identitas historis masyarakat Aceh dan bukan dimaksudkan sebagai simbol gerakan separatis.

"Kami tidak anarkis, kami datang baik-baik. Bendera ini adalah identitas rakyat Aceh, bukan bentuk separatis," kata Rivaldi.

Dalam orasinya, ia uga mempertanyakan transparansi anggaran penanganan bencana. Ia menilai negara belum hadir secara maksimal dalam memenuhi hak-hak masyarakat terdampak dan mendesak pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk mempercepat proses pemulihan.

Selain membentangkan bendera, massa membakar ban bekas di depan gerbang Kantor Gubernur Aceh sebagai simbol kekecewaan terhadap lambannya penanganan bencana. 

Aksi tersebut sempat memicu ketegangan ketika aparat kepolisian berupaya memadamkan api di area lobi kantor gubernur. Aksi berlangsung di bawah pengawalan aparat keamanan. [nh]

Share berita ini

dialeksis.com