DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Wartawan senior Mohsa El Ramadan mengingatkan para jurnalis di Aceh agar tetap kritis dan melakukan verifikasi dalam memanfaatkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dalam pekerjaan jurnalistik.
Hal tersebut disampaikan Mohsa dalam kegiatan Pelatihan AI dan Jurnalisme yang diselenggarakan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Aceh di Hotel Amel Convention Hall, Blang Oi, Banda Aceh, Sabtu (5/9/2026) yang dihadiri media dialeksis.com.
Mohsa mengatakan, perkembangan AI memberikan banyak kemudahan bagi jurnalis, mulai dari membantu mengolah data, menyusun tulisan hingga memperkaya pilihan kata.
Namun, teknologi tersebut tidak seharusnya menggantikan peran dan kemampuan jurnalis. “Gunakan secerdas mungkin AI ini untuk menjadi partner kita di dalam menulis berita,” kata Mohsa.
Menurutnya, jurnalis harus menempatkan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pihak yang menentukan seluruh isi pemberitaan.
Ia mengatakan, perkembangan media sosial juga membuat informasi dapat menyebar dengan sangat cepat. Sebuah video berdurasi sekitar 30 detik dapat menjadi viral dan menyebar luas sebelum kebenaran informasi tersebut diketahui.
Dalam situasi tersebut, media yang memiliki kredibilitas tetap dibutuhkan masyarakat sebagai rujukan untuk memastikan kebenaran sebuah informasi.
“Media sosial yang 30 detik itu bisa membuncang dunia,” ujarnya.
Karena itu, Mohsa meminta jurnalis tidak langsung mempercayai informasi yang diperoleh dari media sosial maupun AI. Setiap informasi harus diperiksa kembali melalui sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
Ia juga menekankan pentingnya verifikasi ketika AI digunakan untuk membantu mencari maupun mengolah data. “Jurnalis, manfaatkan AI itu untuk data. Itu pun perlu diverifikasi,” katanya.
Mohsa kemudian membagikan pengalamannya menggunakan AI dalam pekerjaan menulis dan mengedit buku. Ia mengaku telah menulis dan menjadi editor sekitar 12 buku.
Menurutnya, AI cukup membantu ketika digunakan untuk menata tulisan, memperbaiki pilihan kata, serta memberikan masukan terhadap naskah yang sudah dibuat penulis.
“Saya sudah menulis dan menjadi editor 12 buku. Saya merasakan manfaat AI itu di buku kedua terakhir saya,” ujarnya.
Namun, ia mengingatkan agar jurnalis tidak menyerahkan seluruh proses penulisan berita kepada AI. Menurutnya, penggunaan AI secara penuh justru dapat menghilangkan kemampuan dan karakter seorang jurnalis.
“Tapi kalau kita menggunakan AI penuh dalam menulis berita, itu adalah kebodohan. Kita tidak yakin lagi,” tegasnya.
Mohsa mengatakan setiap jurnalis memiliki karakter tulisan masing-masing. Karakter tersebut dapat terlihat dari pilihan kata, sudut pandang, gaya penyampaian hingga cara seorang wartawan mengolah fakta menjadi sebuah tulisan.
Menurutnya, karakter tersebut harus tetap dipertahankan meskipun jurnalis menggunakan AI. “Punya diksi yang berbeda, punya perasaan-perasaan yang tidak muncul di AI,” katanya.
Ia menilai pengalaman, kemampuan berpikir, intuisi jurnalistik dan pemahaman terhadap persoalan di lapangan tetap menjadi kekuatan utama seorang wartawan.
“AI hanya alat,” ujarnya.
Mohsa juga membandingkan penggunaan teknologi saat ini dengan masa ketika dirinya mulai menekuni dunia kepenulisan. Dahulu, kata dia, seorang penulis harus membuka kamus ketika mencari padanan kata atau memperkaya diksi.
Kini, pekerjaan tersebut dapat dilakukan dengan bantuan AI dalam waktu yang lebih cepat. “Kalau dulu di zaman kami, kalau mau berdiksi atau mencari istilah, kita harus buka kamus. Nah, kalau sekarang kita bisa gunakan AI itu,” katanya.
Meski demikian, kemudahan teknologi tersebut menurutnya tidak boleh membuat jurnalis kehilangan kemampuan dasar dalam menulis dan berpikir.
Ia meminta para jurnalis tetap melakukan proses jurnalistik secara utuh, mulai dari mencari fakta, melakukan wawancara, memeriksa sumber, melakukan verifikasi hingga memahami konteks sebuah peristiwa.
Mohsa juga mengajak peserta pelatihan untuk berbagi pengalaman dalam menggunakan AI untuk pekerjaan jurnalistik.
Menurutnya, diskusi antarjurnalis diperlukan agar pemanfaatan AI tidak sekadar digunakan untuk menghasilkan tulisan dengan cepat, tetapi juga dapat membantu menghasilkan karya jurnalistik yang lebih baik dan akurat.
“Ini bukan cerita mau menghakimi atau apa, tapi nanti kita berbagi bagaimana teknik menulis berita atau menulis agar berita itu lebih rasional dan datanya bisa lebih akurat,” katanya.
Ia memberikan contoh, ketika seorang penulis telah memiliki sejumlah halaman tulisan, AI dapat digunakan untuk membantu memberikan masukan atau menata kembali naskah tersebut.
“Misalnya menulis buku, saya sudah menulis 20 halaman, saya buat prompt, ‘tolong bantu saya’. Itu bisa membantu,” ujarnya.
Menurut Mohsa, perkembangan AI harus disikapi oleh insan pers dengan kemampuan beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik.
Jurnalis, kata dia, harus mampu memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan produktivitas, tetapi tetap menjadi pihak yang bertanggung jawab terhadap informasi yang diterbitkan. [nh]
Share berita ini