DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Ecopulse Movement Indonesia (EMI) mengapresiasi pendekatan persuasif dan humanis aparat keamanan dalam merespons ketegangan yang terjadi pada rangkaian peringatan 21 tahun Damai Aceh di Banda Aceh.
Juru Bicara DPP EMI, Sella Nera Putri, S.Pd., M.Pd., menilai sikap aparat yang menahan diri di tengah situasi memanas menunjukkan adanya upaya untuk menempatkan keselamatan masyarakat sebagai prioritas utama.
Menurut Sella, insiden kericuhan, penurunan paksa bendera Merah Putih di tiang utama Masjid Raya Baiturrahman hingga pencopotan lambang Garuda di kawasan Meuligoe Gubernur Aceh tidak serta-merta dapat dilihat sebagai kegagalan aparat keamanan.
Sebaliknya, kata dia, langkah persuasif diperlukan agar situasi tidak berkembang menjadi benturan yang lebih besar.
“Kami melihat presisi Polri di lapangan dan kesabaran TNI dalam menghadapi masyarakat yang memanas. Bagi kami, hal ini menunjukkan bahwa keselamatan rakyat tetap menjadi prioritas,” kata Sella kepada media di Banda Aceh, Minggu (16/8/2026).
Ia mengatakan, respons keamanan yang berlebihan dalam situasi emosional justru berpotensi memperbesar ketegangan dan membuka kembali luka konflik yang pernah dialami masyarakat Aceh.
“Respons aparat yang berlebihan justru dikhawatirkan dapat memicu situasi yang lebih besar dan membuka kembali luka lama yang pernah terjadi di Aceh,” ujarnya.
Meski demikian, Sella menegaskan pendekatan humanis bukan berarti memberikan pembenaran terhadap tindakan yang melanggar hukum.
Menurut dia, setiap dugaan pelanggaran tetap harus diproses melalui mekanisme hukum. Namun, penegakannya harus dilakukan secara terukur, proporsional, dan mempertimbangkan kondisi sosial Aceh sebagai daerah yang memiliki sejarah konflik panjang.
“Ketegasan dan pendekatan humanis tidak harus dipertentangkan. Aparat dapat tetap menegakkan hukum, tetapi pada saat yang sama menghindari tindakan yang berpotensi memperbesar konflik. Bagi kami, keselamatan rakyat adalah yang utama,” katanya.
Sella juga mengingatkan seluruh pihak agar tidak mudah terseret dalam provokasi maupun emosi sesaat. Menurutnya, pengalaman konflik seharusnya menjadi pelajaran penting bagi masyarakat, pemerintah, tokoh politik hingga aparat keamanan dalam menghadapi setiap ketegangan.
Bagi Sella, isu perdamaian Aceh juga memiliki makna personal. Ia mengaku berasal dari keluarga yang merasakan langsung kehilangan akibat konflik Aceh.
“Saya memahami bagaimana perjuangan seorang ibu membesarkan anak tanpa kehadiran seorang ayah. Saya juga memahami bagaimana anak-anak korban konflik harus melanjutkan hidup dengan kehilangan yang sebenarnya tidak pernah mereka harapkan,” ungkapnya.
Sella menyebut keluarganya menjadi bagian dari mereka yang kehilangan orang-orang terdekat selama perjalanan konflik Aceh.
“Kami dipaksa untuk merelakan dan mengikhlaskan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah kami harapkan. Harapan kami sederhana, lahir dan tumbuh seperti anak-anak lainnya, tanpa harus kehilangan orang yang kami cintai karena konflik,” tuturnya.
Pengalaman itu, kata dia, menjadi alasan kuat agar generasi Aceh saat ini tidak lagi mewarisi penderitaan serupa.
“Karena itu, pertanyaan kita hari ini adalah apakah kita ingin mengulang sejarah yang sama?” ujarnya.
Sella kemudian mengajak pemerintah, aparat keamanan, tokoh masyarakat, kelompok politik serta seluruh elemen masyarakat Aceh menjaga ruang damai dan mengedepankan dialog dalam menyelesaikan setiap persoalan.
“Jangan biarkan perbedaan dan emosi sesaat menghapus pelajaran yang sudah dibayar mahal oleh generasi sebelumnya. Mari kita jaga Aceh tetap damai, selesaikan persoalan melalui dialog dan jalur hukum, serta jangan sampai anak-anak Aceh hari ini mewarisi luka yang sama seperti generasi sebelumnya,” pungkasnya.
Sella merupakan putri almarhum Pang Bahri, yang disebut keluarganya sebagai Panglima GAM D-IV Meureuhom Daya dan meninggal pada masa konflik serta Darurat Militer Aceh.
Share berita ini