DIALEKSIS.COM | Sigli - Alumni Institut Perdamaian di Mindanao, Filipina, Andi Firdhaus, S.H., CPM, atau yang dikenal dengan Andi Lancok, mengecam keras insiden penembakan di Desa Pulo Kenari, Kecamatan Tiro/Truseb, Kabupaten Pidie, Rabu (4/11/2026).
Peristiwa yang mengakibatkan korban jiwa dan luka-luka tersebut dinilai sebagai ancaman serius terhadap rasa aman masyarakat sekaligus kepercayaan rakyat Aceh terhadap proses perdamaian yang selama ini dibangun bersama.
Andi Lancok menegaskan, kekerasan bersenjata yang merenggut nyawa manusia tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa. Terlebih, insiden tersebut terjadi ketika masyarakat Aceh terus berupaya menjaga stabilitas dan merawat perdamaian yang dibangun melalui perjalanan panjang.
“Tidak ada ruang bagi kekerasan, intimidasi, maupun tindakan yang mengancam keselamatan masyarakat sipil. Aceh telah melalui perjalanan panjang untuk membangun perdamaian. Karena itu, setiap peristiwa kekerasan harus menjadi perhatian serius semua pihak,” kata Andi yang juga mantan aktivis 98, Kamis (5/11/2026).
Ia mendesak aparat penegak hukum segera melakukan penyelidikan secara profesional, independen, transparan, dan menyeluruh. Seluruh fakta, mulai dari kronologi kejadian, motif, hingga pihak-pihak yang bertanggung jawab, harus diungkap secara terang.
Menurutnya, siapa pun yang terbukti terlibat harus diproses sesuai ketentuan hukum tanpa pandang bulu. Penegakan hukum menjadi penting untuk mencegah peristiwa serupa terulang sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara.
Selain pengusutan kasus, Andi meminta aparat memberikan perhatian khusus terhadap keselamatan korban, perlindungan saksi, serta pemulihan keluarga yang terdampak.
"Negara harus hadir. Jangan sampai masyarakat merasa sendiri ketika menghadapi peristiwa yang mengancam keselamatan dan rasa aman mereka," ujarnya.
Perdamaian Bukan Sekadar Kesepakatan
Bagi Andi, insiden penembakan di Pulo Kenari bukan semata-mata persoalan keamanan. Peristiwa tersebut juga menjadi pengingat bahwa perdamaian Aceh membutuhkan komitmen nyata dari seluruh pihak.
Ia turut menyoroti sejumlah persoalan yang belum tuntas dalam perjalanan perdamaian Aceh, salah satunya menyangkut bendera Aceh atau Bendera Bulan Bintang. Persoalan tersebut masih menjadi konsensus politik yang belum menemukan penyelesaian selama lebih dari dua dekade, terutama akibat benturan regulasi antara pemerintah daerah dan pusat serta perbedaan tafsir hukum.
Sebagai aktivis yang memiliki pengalaman dalam pendidikan perdamaian di Filipina, Andi memandang perdamaian tidak cukup dimaknai sebagai kesepakatan politik yang pernah ditandatangani.
Ia mengingatkan bahwa Nota Kesepahaman Helsinki 2005, khususnya poin 1.1.5, telah memberikan ruang bagi Aceh untuk memiliki simbol wilayah, termasuk bendera, lambang, dan himne. Ketentuan tersebut kemudian menjadi bagian dari landasan pengaturan dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh (UUPA).
Selanjutnya, Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) mengesahkan Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 yang mengatur tentang bendera dan lambang Aceh, termasuk desain Bendera Bulan Bintang.
“Perdamaian bukan sekadar kesepakatan yang ditandatangani, tetapi komitmen bersama yang harus dijaga melalui penghormatan terhadap kemanusiaan, keadilan, dan supremasi hukum,” ujar mantan wartawan konflik tersebut.
Menurutnya, persoalan Bendera Bulan Bintang membutuhkan kepastian hukum agar tidak terus menjadi sumber polemik dan ketegangan. Dialog harus diikuti langkah konkret yang menghasilkan penyelesaian jelas, bukan sekadar pembahasan berulang tanpa kepastian akhir.
Andi berharap seluruh pihak mengedepankan akal sehat dan nilai-nilai kemanusiaan dalam merespons peristiwa kekerasan di Aceh. Baginya, keadilan harus menjadi jalan untuk menjaga perdamaian, bukan justru sebaliknya.
Ia juga mengingatkan agar tidak ada pihak yang menjadikan kekerasan sebagai jalan menyelesaikan persoalan. “Simpan senjata, tidak perlu berperang dengan rakyat,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Andi menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap mereka diberikan kekuatan dalam menghadapi musibah tersebut.
“Turut berduka cita, semoga Allah memberikan kekuatan kepada keluarga korban,” tutup Andi. [*]
Share berita ini