DIALEKSIS.COM | Banda Aceh - Pemerintah Aceh melalui Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) terus memperkuat pelestarian plasma nutfah durian lokal sebagai langkah strategis membangun sentra durian unggul yang berdaya saing.
Upaya tersebut tidak hanya bertujuan menjaga keberagaman varietas khas Aceh dari ancaman kepunahan, tetapi juga meningkatkan nilai ekonomi bagi petani melalui pengembangan benih unggul.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh, Azanuddin Kurnia, mengatakan Aceh memiliki kekayaan varietas durian lokal yang tersebar di berbagai daerah dan menjadi aset genetik yang perlu dijaga secara berkelanjutan.
"Plasma nutfah durian lokal harus kita jaga, kembangkan, dan arahkan menjadi sumber benih unggul. Selain melestarikan kekayaan genetik daerah, langkah ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani melalui komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi," kata Azanuddin, yang dilansir pada Senin (27/7/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah varietas lokal Aceh telah mendapat pengakuan sebagai varietas unggul, di antaranya Mas Ajay dari Aceh Jaya, Kaloy Tamiang dari Aceh Tamiang, Asoe Kaya dari Aceh Besar, dan Pha Gajah dari Aceh Utara. Sementara itu, varietas Mie Eh asal Aceh Besar serta Jonson Lauser dari Aceh Tenggara telah terdaftar di Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) Kementerian Pertanian.
Menurut Azanuddin, durian lokal Aceh memiliki keunggulan dari sisi cita rasa, tekstur, hingga ketebalan daging buah yang menjadi daya tarik tersendiri di pasaran. Salah satu yang cukup dikenal ialah Durian Mie Eh dari Kecamatan Lhong, Kabupaten Aceh Besar, yang setiap musim panen banyak diburu masyarakat.
Tingginya permintaan membuat harga Durian Mie Eh dapat mencapai Rp250 ribu hingga Rp400 ribu per buah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan varietas lokal memiliki prospek ekonomi yang menjanjikan apabila didukung dengan penggunaan benih yang berkualitas.
Distanbun Aceh juga terus mendorong proses identifikasi dan penguatan varietas lokal melalui berbagai kegiatan, salah satunya Kontes Buah Durian 2025 di Aceh Tenggara. Dari kegiatan tersebut, varietas Jonson Lauser, Jantung, dan Black Orchid ditetapkan sebagai durian terbaik sebelum dilakukan tahapan eksplorasi dan pengamatan sebagai calon Pohon Induk Tunggal (PIT).
"Penetapan varietas tidak berhenti pada proses pendaftaran. Pohon induk masih harus melalui pengamatan sesuai ketentuan sebelum dapat ditetapkan sebagai sumber benih bersertifikat yang siap diperbanyak," ujarnya.
Azanuddin menambahkan, keberadaan Pohon Induk Tunggal menjadi fondasi penting dalam menghasilkan benih durian yang bermutu, seragam, dan memiliki identitas varietas yang jelas. Dengan demikian, pengembangan kebun durian di Aceh dapat dilakukan secara lebih terarah dan berkelanjutan.
Ia berharap pemerintah kabupaten dan kota memprioritaskan penggunaan varietas unggul lokal serta benih yang diproduksi penangkar dalam daerah agar manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh petani Aceh sekaligus menjaga kelestarian sumber daya genetik daerah.
"Varietas lokal merupakan kekayaan Aceh yang harus terus dijaga bersama. Selain bernilai ekonomi, plasma nutfah ini adalah warisan berharga bagi generasi mendatang dan menjadi modal penting untuk menjadikan Aceh sebagai salah satu sentra durian unggul di Indonesia," kata Azanuddin.
Share berita ini